Senin, 02 September 2013

Perkembangan Kemandirian



BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang Masalah
Perkembangan kemandirian pada remaja merupakan hal menarik untuk di kaji, karena individu yang memasuki masa remaja  merupakan remaja yang terkategori  hidup dalam masa transisi, yakni perpindahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa atau masa pencarian jati diri.  Oleh karena itu menekankan kemandirian pada remaja sangat penting seperti usaha untuk menegakkan identitas menjadi pribadi yang mandiri.
Pencapaian kemandirian bagi  remaja  merupakan sesuatu hal yang tidak mudah, sebab pada remaja terjadi pergerakan perkembangan psikososial  dari arah lingkungan keluarga  menuju lingkungan luar keluarga. Kemandirian merupakan dasar untuk menjadi orang dewasa yang sempurna. Kemandirian dapat  mendasari seseorang untuk menentukan sikap dan mengambil keputusan dengan tepat. Tuntutan kemandirian bagi remaja sangat besar dan harus direspon dengan baik guna kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Berdasarkan permasalahan uraian di atas maka penulis tertarik untuk menuliskan makalah dengan judul “ PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN PADA REMAJA”

1.2         Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas penulis merumuskan masalah yakni sebagai berikut:
1.        Apa pengertian kemandirian?
2.        Apa pentingnya kemandirian bagi remaja?
3.        Bagaimana tingkatan dan karakteristik kemandirian?
4.        Bagaimana proses perkembangn kemandirian?
5.        Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian peserta didik?
6.        Bagaimana peranan orang tua terhadap pembentukan kemandirian          remaja?
7.        Bagaimana upaya pengembangan kemandirian remaja dan           implikasinnya bagi pendidikan?

1.3         Tujuan Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis mempunyai tujuan yakni sebagai berikut :
1.        Mengetahui pengertian kemandirian
2.        Mengetahui pentingnya kemandirian bagi remaja
3.        Mengetahui tingkatan dan karakteristik kemandirian
4.        Mengetahui proses perkembangan kemandirian
5.        Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian peserta         didik
6.        Mengetahui peranan orang tua terhadap pembentukan kemandirian         remaja
7.        Mengetahui upaya pengembangan kemandirian remaja dan          implikasinnya bagi pendidikan



BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Pengertian  Kemandirian
Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan bergantung kepada orang tua dan orang-orang yang berada di lingkungannya hingga waktu tertentu. Seiring dengan berlalunya waktu dan perkembangan selanjutnya, seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari kebergantungannya pada orang tua atau orang lain di sekitarnya dan belajar untuk mandiri. Hal ini merupakan suatu proses alamiah yang dialami oleh semua makhluk hidup, tidak terkecuali manusia. Mandiri atau sering juga disebut berdiri di atas kaki sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak bergantung pada orang lain serta bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari sekedar aspek fisik.
Kemandirian menurut Sutari Imam Barnadid (1982), meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali (1987) yang mengatakan bahwa kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri. Secara singkat, dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian:
1.    Keadaan seseorang yang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan        dirinya,
2.    Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah         yang dihadapi,
3.    Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya,
4.    Bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
          Robert Havighurst (1972) menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu:
a.    Emosi, aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan mengontrol emosi         dan tidak bergantung kepada orang tua.
b.    Ekonomi, aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan mengatur ekonomi   dan tidak bergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang tua.
c.    Intelektual, aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengatasi    berbagai masalah yang dihadapi.
d.   Sosial, aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengadakan        interaksi dengan orang lain dan tidak bergantung atau menunggu aksi   dari orang lain.
Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dan individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandiriannya, seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk berkembang dengan lebih mantap. Kesempatan, dukungan dan dorongan dari keluarga serta lingkungan disekitarnya adalah hal yang dibutuhkan untuk menjadi seseorang yang mandiri dan dapat mencapai otonomi atas dirinya sendiri. Pada saat ini peran orang tua dan respon dari lingkungan sangat diperlukan bagi anak sebagai “penguat” untuk setiap perilaku yang telah dilakukannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Reber (1985) bahwa kemandirian merupakan suatu sikap otonomi bahwa seseorang secara relatif bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain. Dengan otonomi tersebut, seorang remaja diharapkan akan lebih bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.
Perkembangan kemandirian adalah proses yang menyangkut unsur-unsur normatif. Ini mengandung makna bahwa kemandirian merupakansuatu proses yang terarah. Karena perkembangan kemandirian sejalan dengan hakikat eksistensial manusia, maka arah perkembangan tersebut harus sejalan dengan dan berlandaskan pada tujuan hidup manusia.
Jika dikatakan bahwa proses memaknai diri dan dunianya itu bersifat selektif, maka sifat selektif itu menunjukkan bahwa apa yang dipersepsi dan dimaknai oleh manusia itu ditentukan melalui proses memilih. Proses memilih itu tidak terlepas dari proses kognitif dalam menimbang berbagai alternatif yang selalu terkait dengan sistem nilai, bukan proses yang bersifat reaktif atau impulsif. Mekanisme proses kognitif dan penyesuaian kehendak terhadap berbagai dimensi kehidupan akan mewarnai cara individu memaknai dunianya.
Pada hakikatnya, manusia ketika lahir ke dunia berada dalam ketidaktahuan tentang diri dan dunianya. Dalam kondisi seperti itu, individu menyatu dengan dunianya; dalam pengertian belum memahami hubungan subjek dengan objek. Berbekal perkembangan kemampuan berpikir, kreativitas, dan imajinasi, individu mampu membedakan diri dari individu lain dan lingkungannya serta keterpautan dirinya dengan orang lain atau dengan lingkungannya. Proses seperti ini, oleh Sunaryo Kartadinata (1988) dinamakan dengan proses peragaman (differentiation process). Dalam proses ini, sedikit demi sedikit individu berupaya melepaskan diri dari otoritas dan menuju hubungan mutualistik, mengembangkan kemampuan menuju spesialisasi tertentu, mengembangkan kemampuan instrumental agar mampu memenuhi sendiri kegiatan hidupnya. Proses semacam ini oleh Chikering (1971) disebut dengan “emotional and instrumental independence” (independensi emosional dan instrumental) yang merupakan dua komponen penting dalam perkembangan kemandirian. Dalam perkembangannya yang secara bertahap mengarah kepada pengakuan dan penerimaan akan saling keteergantungan individu, keduanya bersifat komplementer.
Meskipun dalam proses peragaman manusia sudah memiliki kemampuan instrumental, tetapi belum sampai kepada kemandirian karena pemunculannya baru pada aspek-aspek kehidupan tertentu. Proses peragaman ini sesungguhnya baru sampai pada suatu titik antara yang disebut dengan “having process” (proses pemilikan) pengetahuan, ketrampilan, teknologi. Padahal, suatu titik dimensi kehidupan yang lebih penting dan harus dicapai oleh manusia dalam proses perkembangannya adalah yang disebut dengan “being process” (proses menjadi). Dalam konteks ini, Stephen R. Covey (1989) menegaskan bahwa perkembangan kehidupan manusia harus mengarah dan sampai pada manusia sebagai “being at cause” (menempatkan manusia pada posisi yang menentukan), berparadigma “inside out” (berusaha mengubah dari dalam keluar), memusatkan pada “circle of influence” (mengarahkan waktu dan energinya terhadap hal-hal di luar diri yang dapat dikendalikannya), dan berpikir “to be” (berusaha untuk menjadi) dan bukan mengarah kepada “to have” (berusaha untuk memiliki). Proses perkembangan secara kontinyu sampai pada titik ini yang oleh Fuad Hassan (1986) disebut sebagai upaya memantapkan jati diri.
Proses peragaman ini bahkan harus berkembang terus sampai pada suatu tingkat yang disebut dengan tingkat integrasi atau tingkat mendunia. Pada tingkat ini perkembangan individu sudah sampai pada tingkat mendekatkan diri pada dunia yang dihadapi dan dihidupnya, bukan mengasingkan diri dari dunianya sehingga menimbulkan kemandirian tak aman. Interaksi dan dinamika perkembangan kemandirian manusia menuju tahapan integrasi ini dapat digambarkan dengan lima karakteristik inheren dan esensial yang saling berinteraksi dalam kehidupan, yaitu:
1.    Kedirian
Kedirian ini menunjukkan pengukuhan bahwa dirinya berbeda dari orang lain.
2.    Komunikasi
Kedirian manusia itu tidak pernah berlangsung dalam kemenyendirian melainkan dalam komunikasinya dengan lingkungan fisik, lingkungan sosial, diri sendiri, maupun Tuhan.
3.    Keterarahan
Komunikasi manusia dengan berbagai pihak itu menunjukkan adanya keterarahan dalam diri manusia yang menyatakan bahwa hidupnya bertujuan.
4.    Dinamika
Proses perwujudan dan pencapaian tujuan manusia memerlukan adanya dinamika yang menyatakan bahwa manusia memiliki pikiran, kemampuan dan kemauan sendiri untuk berbuat dan berkreasi, dan tidak menjadi objek yang dipolakan atau digerakkan oleh orang lain.
5.    Sistem nilai
Ke-empat karakteristik di atas muncul secara terintregasi dalam keterpautannya dengan sistem nilai sebagai elemen inti dari cara dan tujuan hidup.
Pembahasan kemandirian ditinjau dari berbagai perspektif di atas mengantarkan pada suatu intisari bahwa kemandirian merupakan suatu kekuatan internal individu yang diperoleh melalui proses individuasi. Proses individuasi itu adalah prosees realisasi kedirian dan proses menuju kesempurnaan. “Diri” adalah inti dari kepribadian dan merupakan titik pusat yang menyelaraskan dan mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadian. Kemandirian yang terintegrasi dan sehat dapat dicapai melalui proses peragaman, perkembangan, dan ekspresi sistem kepribadian sampai pada tingkatan yang tertinggi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian merupakan suatu kekuatan internal individu yang diperoleh melalui proses individuasi. Dan untuk menjadi mandiri, seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan, dan dorongan dari keluarga serta lingkungan di sekitarnya, untuk mencapai otonomi atas dirinya sendiri. Sehingga individu pada akhirnya mampu berfikir dan bertindak sendiri agar dapat memilih jalan hidupnya untuk berkembang dengan lebih mantap.

2.2         Pentingnya Kemandirian bagi Peserta Didik
Situasi kehidupan dewasa ini sudah semakin kompleks. Kompleksitas kehidupan seolah-olah telah menjadi bagian yang mapan dari kehidupan masyarakat, sebagian demi sebagian akan bergeser atau bahkan mungkin hilang sama sekali karena digantikan oleh pola kehidupan baru pada masa mendatang yang diperkirakan akan semakin kompleks.
Kecenderungan yang muncul dipermukaan dewasa ini, ditunjang oleh laju perkembangan teknologi dan arus gelombang kehidupan global yang sulit atau tidak mungkin dibendung, mengisyaratkan bahwa kehidupan masa mendatang akan menjadi sarat pilihan yang rumit. Ini mengisyaratkan bahwa manusia akan semakin didesak ke arah kehidupan yang sangat kompetitif. Andersen (1993: 718) memprediksikan situasi kehidupan semacam itu dapat menyebabkan manusia menjadi serba bingung atau bahkan larut ke dalam situasi baru tanpa dapat menyeleksi lagi jika tidak memiliki ketahanan hidup yang memadai. Hal ini disebabkan tata nilai lama yang telah mapan ditantang oleh nilai-nilai baru yang belum banyak dipahami.
Situasi kehidupan seperti itu memiliki pengaruh kuat terhadap dinamika kehidupan remaja, apalagi remaja secara psikologis, tengah berada pada masa topan dan badai serta tengah sedang mencari jati diri (Hurlock, 1980). Pengaruh kompleksitas kehidupan dewasa ini sudah nampak pada berbagai fenomena remaja yang perlu memperoleh perhatian pendidikan. Fenomena yang tampak akhir-akhir ini, antara lain perkelahian antar pelajar, penyalahgunaan obat dan alkohol, reaksi emosional yang berlebihan, dan berbagai perilaku yang mengarah pada tindak kriminal (Inke Maris, 1993: 3)
Dalam konteks belajar, gejala negatif yang tampak adalah kurang mandiri dalam belajar yang berakibat pada gangguan mental setelah memasuki perguruan tinggi (Soewandi, 1993: 186). Kebiasaan belajar yang kurang baik yaitu tidak tahan lama dan baru belajar setelah menjelang ujian (Lutfi, 1992: 102), membolos, menyontek, dan mencari bocoran soal ujian (Engkoswara,1987: 13).
Masalah remaja di atas, merupakan perilaku-perilaku reaktif, semakin meresahkan jika dikaitkan dengan situasi masa depan remaja yang diperkirakan akan semakin kompleks dan penuh tantangan. Menurut Tilaar (1987: 2), tantangan kompleksitas masa depan memberikan dua alternatif, yaitu pasrah kepada nasib atau mempersiapkan diri sebaik mungkin. Misi pendidikan yang juga berdimensi masa depan tentunya menjatuhkan pilihannya pada alternatif kedua. Artinya, pendidikan mengemban tugas untuk mempersiapkan remaja bagi peranannya di masa depan agar kelak menjadi manusia berkualitas sebagaimana manusia ideal yang diamanahkan melalui UUSPN.
Pentingnya usaha mempersiapkan bagi masa depan remaja, karena sedang mencari jati diri, mereka juga berada pada tahap perkembangan yang sangat potensial. Perkembangan kognitifnya telah mencapai tahap puncak. Menurut teori perkembangan kognitif dari Piaget, perkembangan kognitif adalah masa munculnya kemampuan berfikir sistematis dalam menghadapi persoalan-persoalan abstrak dan hipotetis karena telah mencapai tahap operasional formal (Bybee dan Sund, 1982). Perkembangan moralnya berada pada tingkatan konvensional, suatu tingkatan yang ditandai kecenderungan tumbuhnya kesadaran bahwa norma-norma yang ada dalam masyarakat perlu dijadikan acuan dalam hidupnya, menyadari kewajiban untuk melaksanakan norma-norma itu, dan mempertahankan norma (Kohlberg, 1984). Perkembangan fisiknya juga berada pada masa perkembangan fisik yang amat pesat (Siti Rahayu Haditono, 1986).
Melihat potensi remaja, menjadi penting dan sangat menguntungkan jika usaha pengembangannya difokuskan pada aspek-aspek positif remaja dari pada menyoroti sisi negatifnya. Sebab, meskipun ada remaja yang menunjukkan perilaku negatif, sebenarnya hanya sebagian kecil saja (kurang dari 1%) dari jumlah remaja Indonesia. Usaha mempersiapkan remaja menghadapi masa depan yang serba kompleks, salah satunya dengan mengembangkan kemandirian.
Usaha pendidikan yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk mengembangkan kemandirian menjadi sangat penting karena selain masalah remaja dalam bentuk perilaku positif sebagaimana dipaparkan di atas, juga terdapat gejala negatif yang dapat menjauhkan individu dari kemandirian. Gejala-gejala tersebut oleh Sunaryo Kartadinata (1989) dipaparkan sebagai berikut:
1)        Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar dan bukan karena niat sendiri yang ikhlas. Perilaku seperti ini akan mengarah kepada perilaku formalistik dan ritualistik serta tidak konsisten. Situasi seperti ini akan menghambat pembentukan etos kerja dan etos kehidupan yang mapan sebagai salah satu ciri dari kualitas sumber daya dan kemandirian manusia.
2)        Sikap tidak perduli terhadap lingkungan hidup. Manusia mandiri bukanlah manusia yang lepas dari lingkungannya, melainkan manusia yang bertransenden terhadap lingkungannya. Ketidakpeduliaan terhadap lingkungan hidup merupakan gejala perilaku impulsif yang menunjukkan bahwa kemandirian masyarakat masih rendah.
3)        Sikap hidup konformistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala mitos bahwa segala sesuatunya bisa diatur yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat merupakan petunjuk adanya ketidakjujuran berpikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.
Gejala-gejala di atas merupakan sebagian kendala utama dalam mempersiapkan individu-individu yang mampu mengarungi kehidupan masa mendatang yang semakin kompleks dan penuh tantangan. Oleh sebab itu, perkembangan kemandirian remaja menuju arah kesempurnaan menjadi sangat penting untuk diikhtiarkan secara serius, sistematis, dan terprogram. Sebab, problema kemandirian sesungguhnya bukanlah hanya merupakan masalah intergeneration (dalam generasi), tetapi juga merupakan masalah between generation (antargenerasi). Perubahan tata nilai yang terjadi dalam generasi dan antargenerasi akan tetap memposisikan kemandirian sebagai isu aktual dalam perkembangan manusia.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa masalah kemandirian sesungguhnya bukanlah hanya masalah intergeneration (dalam generasi), tetapi juga merupakan masalah between generation (antargenerasi). Perubahan tata nilai yang dalam generasi dan antargenerasi akan tetap memposisikan kemandirian sebagai isu aktual dalam perkembangan manusia.

2.3     Proses Perkembangan Kemandirian
Kemandirian, seperti halnya kondisi psikologis lain, dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tentu saja tugas-tugas tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
Mengingat banyaknya dampak positif bagi perkembangan individu, kemandirian sebaiknya diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai kemampuannya. Seperti telah diakui, segala sesuatu yang dapat diusahakan sejak dini akan dapat dihayati dan akan semakin berkembang menuju kesempurnaan. Latihlah kemandirian yang diberikan pada anak harus disesuaikan dengan usia anak. Contoh: Untuk anak-anak usia 3-4 tahun, latihlah kemandirian dapat berupa membiarkan anak memasang kaos kaki dan sepatu sendiri, membereskan mainan setiap kali selesai bermain, dan lain-lain. Sementara untuk remaja, berikan kebebasan misalnya dalam memilih jurusan atau bidang studi yang diminatinya, atau memberikan kesempatan kepadanya untuk memutuskan sendiri jam berapa ia harus sudah pulang ke rumah jika ia keluar malam bersama temannya (tentu saja orang tua perlu mendengarkan argumentasi yang disampaikan sang remaja tersebut sehubungan dengan keputusannya). Dengan memberikan latihan-latihan tersebut (tentu saja harus ada unsur pengawasan dari orang tua untuk memastikan bahwa latihan tersebut benar-benar efektif), diharapkan dengan bertambahnya usia akan bertambah pula kemampuan anak untuk berfikir secara objektif, tidak mudah dipengaruhi, berani mengambil keputusan sendiri, tumbuh rasa percaya diri, tidak bergantung pada orang lain sehingga kemandirian akan berkembang dengan baik.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian harus diajarkan sedini mungkin, agar berkembang dengan baik. Pelatihan kemandirian dilakukan secara bertahapdan terus menerus dari hal yang paling mendasar sesuai dengan usia seorang anak. Kemandirian sangatlah penting dan harus diajarkan agar seseorang mampu hidup mandiri tanpa bergantung kepada orang lain dan orangtualah yang berperan paling utama dalam pembentukan kemandirian anak.
2.4     Tingkat dan karakteristik Kemandirian
Sebagaimana suatu dimensi psikologis yang kompleks, kemandirian dalam perkembangannya memiliki tingkatan-tingkatan. Perkembangan kemandirian seseorang juga berlangsung secara bertahap sesuai dengan tingkatan perkembangan kemandirian tersebut. Lovinger mengemukakan tingkatan kemandirian beserta ciri-cirinya sebagai berikut :
           1.        Tingkatan pertama, adalah tingkat impulsif dan melindungi diri.
               Ciri-ciri tingkatan ini adalah :
a.      Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari    interaksinya dengan orang lain.
b.      Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik.
c.      Berfikir tidak logis dan tertegun pada cara berfikir tertentu     (stereotype).
d.     Cenderung melihat kehidupan sebagai ”zero-sum game”.
e.      Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain serta lingkungan.
           2.        Tingkat kedua, adalah tingkat konformistik. Ciri-ciri tingkatan ini adalah :
a.      Peduli terhadap penampilan dri dan penerimaan sosial.
b.      Cenderung berfikir stereotype dan klise.
c.         Peduli akan konforminitas terhadap anturan eksternal.
d.        Bertindak dengan motif yang dangkal untuk memperoleh pujian.
e.         Menyamakan diri dalam ekspresi emosi dan kurangnya introspeksi.
f.         Perbedan kelompok didasarkan atas ciri-ciri eksternal.
g.        Takut tidak diterima kelompok.
h.        Tidak sensitif terhadap keindividualan.
i.          Merasa berdosa jika melanggar aturan.
3.    Tingkatan ketiga, adalah tingkat sadar diri. Ciri-ciri tingkatan ini adalah:
a.         Mampu berfikir alternatif.
b.        Melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi.
c.         Peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada.
d.        Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah.
e.         Memikirkan cara hidup.
f.         Penyesuaian terhadap situasi dan peranan.
4.    Tingkatan keempat, adalah tingkat seksama (conscientious)
Ciri-ciri tingkatan ini adalah :
a.         Bertindak atas dasar nilai-nilai internal.
b.        Mampu melihat diri sebagai pembuat dan pelaku tindakan.
c.         Mampu melihat keragaman emosi, motif dan perspektif diri sendiri    maupun orang lain.
d.        Sadar akan tanggungjawab.
e.         Mampu melakukan kritik dan penilaian diri.
f.         Peduli akan hubungan mutualistik.
g.        Memiliki tujuan jangka panjang.
h.        Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial.
i.          Berfikir lebih kompleks dan atas dasar pola analistis.
            5.    Tingkatan kelima, adalah tingkat individualistik.
Ciri-ciri tingktan ini adalah :
a.         Peningkatan kesadaran individualitas.
b.        Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan.
c.         Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain.
d.        Mengenal eksistensi perbedaan individual.
e.         Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan.
f.         Membedakan kehidupan internal dengan kehidupan luar dirinya.
g.        Mengenal kompleksitas diri.
h.        Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial.
6.    Tingkatan keenam, adalah tingkatan mandiri.
Ciri-ciri tingkatan ini adalah :
a.         Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan.
b.        Cenderung bersikap realistik dan objektif terhadap diri sendiri maupun orang lain.
c.         Peduli terhadap faham-faham abstrak, seperti keadilan sosial.
d.        Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan.
e.         Toleran terhadap ambiguitas.
f.         Peduli akan pemenuhan diri (self-fulfilment).
g.        Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal.
h.        Respek terhadap kemandirian orang lain.
i.          Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain.
j.          Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan.
Dengan menggunakan perspektif tingkatan-tingkatan kemandirian diatas, maka berdasarkan penelitian mendalam yang dilakukan oleh Sunaryo Kartadinata (1988) menunjukan bahwa tingkat kemandirian remaja pada umumnya bervariasi dan menyebar pada tingkatan sadar diri, seksama, individualistik dan mandiri. Kecenderungan bervariasi ini mengisyaratkan bahwa proses pengambilan keputusan oleh remaja belum sepenuhnya dilakukan secara mandiri. Walaupun proses pengambilan keputusan oleh remaja belum sepenuhnya dilakukan secara mandiri, tetapi tampak bahwa proses tersebut telah didasari oleh kecenderungan berfikir alternatif. Dalam posisi seperti ini, proses penyesuaian diri terhadap situasi dan peranan yang dihadapi tidak dilakukan secara mekanis belaka karena dalam diri remaja teah tumbuh dan berkembang tentang hubungan dirinya dengan kelompok.
Remaja juga ada yang kemandiriannya berada pada tingkat seksama. Kemandirian seperti ini menunjukan bahwa proses pengambilan keputusan yang dilakukan bukan saja didasarkan pada kemampuan berfikir alternatif melainkan didasarkan pada patokan atau prinsip sendiri dan disertai kesadaran akan tanggungjawab atas keputusan yang diambil meskipun keputusan yang dilakukan berbeda dengan yang dilakukan oleh orang lain. Pengambilan keputusan secara seksama itu akan mengantarkan remaja ke tingkat berikutnya yakni tingkat individualistik yang ditandai oleh sikap penghargaan terhadap individualitas orang lain. Remaja yang kemandiriannya berada pada tingkat individualistik ini sudah semakin menyadari akan adanya perbedaan antara proses dan hasil.
Bagi remaja yang kemandiriannya berada pada tingkat mandiri berarti telah berkembang kesadaran bahwa sikap bergantung itu adalah masalah emosional yang akan semakin berkembang dalam dirinya karena memahami bahwa dirinya tidak mampu bersikap realistik. Remaja yang kemandiriannya berada pada tingkat mandiri bukan saja sadar akan berbagai alternatif yang dapat dipilih secara seksama dan dialami sendiri, tetapi juga mampu bersikap realistik dan memecahkan konflik internal secara objektif dengan tetap saling ketergantungan dengan orang lain.
Jika temuan penelitian pada umumnya menunjukan bahwa tingkat kemandirian remaja menyebar pada tingkatan sadar diri, seksama, individualistik, dan mandiri, maka semua ini dapat ditafsirkan secara rinci masing-masing tingkatan sebagai berikut :
1.    Tingkat sadar diri
Ini dapat ditafsirkan bahwa remaja telah memiliki kemampuan berikut ini:
a.         Cenderung mampu berfikir alternatif
b.        Melihat berbagai kemungkinan dalam suatu situasi.
c.         Peduli akan pengambilan manfaat dari situasi yang ada.
d.        Berorientasi pada pemecahan masalah.
e.         Memikirkan cara mengarungi hidup.
f.         Berupaya menyesuaikan diri terhadap situasi dan peranan.
2.    Tingkat seksama
Ini dapat ditafsirkan bahwa remaja telah memiliki kemampuan berikut ini:
a.         Cenderung bertindak atas dasar nilai internal.
b.        Melihat dirinya sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan.
c.         Melihat keragaman emosi, motif dan perspektif diri sendiri maupun orang lain.
d.        Sadar akan tanggungjawab.
e.         Mampu melakukan kritik dan penilaian diri.
f.         Peduli akan hubungan mutualistik.
g.        Berorientasi pada tujujan jangka panjang.
3.    Tingkat individualistik.
Ini dapat ditafsirkan bahwa remaja telah memiliki kemampuan berikut ini:
a.         Memiliki kesadaran yang lebih tinggi akan individualitas.
b.        Kesadaran akan konflik emosionalitas antara kemandirian dan ketergantungan.
c.         Menjadi lebih toleran terhadap dari sendiri dan orang lain.
d.        Sadar akan eksistensi perbedaan individual.
e.         Bersikap toleran terhadap perkembangan dalam kehidupan.
f.         Mampu membedakan kehidupan dalam dirinya dengan kehidupan luar dirinya.
4.    Tingkat mandiri.
Ini dapat ditafsirkan bahwa remaja telah memiliki kemampuan berikut ini:
a.         Telah memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan.
b.        Bersikap objektif dan realistis terhadap diri sendiri maupun orang lain.
c.         Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan.
d.        Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik dalam diri.
e.         Menghargai kemandirian orang lain.
f.         Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain.
g.        Mampu mengekspresikan perasaannya dengan penuh keyakinan dan keceriaan.
Berdasarkan penguraian di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan kemandirian seseorang berlangsung secara bertahap sesuai dengan  perkembangan kemandirian masing-masing. Setiap perkembangan memiliki beberapa ciri yang membedakan dari tiap-tiap tahap tersebut. Dengan melihat tingkatan-tingkatan tersebut dapat diketahui bahwa setiap remaja memiliki tingkat kemandirian yang bervariasi dan menyebar, sehingga dapat ditafsirkan secara rinci dari masing-masing tingkatan kemandirian yang dimiliki remaja.

2.5     Faktor – faktor yang memengaruhi kemandirian remaja
Sebagaimana aspek–aspek psikologis lainnya, kemandirian juga bukanlah semata–mata merupakan pembawaan yang melekat pada diri individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai stimulasi yang datang dari lingkungannya, selain potensi yang telah dimiliki sejak lahir sebagai keturunan dari orang tuanya.
Ada sejumlah faktor yang sering disebut sebagai kolerat bagi perkembangan kemandirian, yaitu sebagai berikut:
1.        Gen atau keturunan orang tua
 Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga. Namun, faktor keturunan ini masih menjadi perdebatan karena ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya bukan sifat kemandirian orang tuanya itu menurun kepada anaknya, melainkan sifat orang tuanya muncul berdasarkan cara orang tua mendidik anaknya.
2.        Pola asuh orang tua
Cara orang tua mengasuh atau mendidik anak akan mempengaruhi perkembangan kemandirian anak remajanya. Orang tua yang terlalu banyak melarang atau mengeluarkan kata “jangan“ kepada anak tanpa disertai dengan penjelasan yang rasional akan menghambat perkembngan kemandirian anak. Sebaliknya, orang yang menciptakan suasana aman dalam interaksi keluarganya akan dapat mendorong kelancaran perkembangan anak. Demikian juga orang tua yang cenderung sering membanding–bandingkan anak yang satu dengan yang lainnya juga akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan kemandirian anak.
3.        Sistem pendidikan di sekolah
Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian remaja. Demikian juga, proses pendidikan yang banyak menekankan pentingya pemberian sanksi atau hukuman (punishment) juga dapat menghambat perkembangan kemandirian remaja. Sebaliknya, proses pendidikan yang lebih menekankan pentingnya penghargaan terhadap potensi anak, pemberian reward, dan penciptaan kompetisi positif akan memperlancar perkembangan kemadirian remaja.
4.        Sistem kehidupan masyarakat
Sistem kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan pentingya hierarki struktur sosial, merasa kurang aman atanu mencekam serta kurang mengahargai manifestasi potensi remaja dalam kegiatan produktif dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remaja. Sebaliknya, lingkungan masyraakat yang aman, mengahargai ekspresi potensi remaja dalam bentuk berbagai kegiatan, dan tidak terlaku hierarkis akan merangsang dan mendorong perkembangan kamandirian remaja.
Berdasarkan keterangan di atas dapat ditarik kesimpulan perkembangan kemandirian seseorang tidak hanya berasal dari bawaan sejak lahir. Namun juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mencakup beberapa hal:
1.      Gen atau keturunan
2.      Pola asuh orang tua
3.      Sistem pendidikan di sekolah
4.      Sistem kehidupan masyarakat
Seseorang menimbang dan menelaah semua sosialisasi itu dengan mencari hal positif yang dapat dijadikan bagian untuk kelangsungan hidup.

2.6     Peran Orang tua Terhadap Pembentukan Kemandirian Remaja
Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di dalam keluarga, orang tualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri. Meskipun dunia pendidikan (sekolah) turut memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri.
Bagaimana orang tua harus bertindak dalam menyikapi tuntutan kemandirian seorang remaja, berikut ini ada beberapa saran yang layak untuk dipertimbangkan.
a.         Komunikasi
Berkomunikasi dengan anak merupakan suatu cara yang paling efektif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja, komunikasi disini harus bersifat dua arah, artinya kedua belah pihak saling mendengarkan pandangan satu dengan yang lain. Dengan melakukan komunikasi orang tua dapat mengetahui pandangan-pandangan dan kerangka berpikir anaknya, begitu juga sebaliknya. Komunikasi tidak berarti harus dilakukan secara formal, tetapi bisa juga  dilakukan sambil makan bersama atau selagi berlibur sekeluarga.
b.        Kesempatan
Orang tua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak remajanya untuk membuktikan atau melaksanakan keputusan yang telah diambilnya. Biarkan remaja tersebut mengusahakan sendiri apa yang diperlukannya dan biarkan juga ia mengatasi sendiri berbagai masalah yang muncul. Dalam hal ini, orang tua hanya bertindak sebagai pengamat dan hanya boleh melakukan intervensi jika tindakan sang remaja dianggap dapat membahayakan dirinya dan orang lain.
c.         Tanggung Jawab
Bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci menuju kemandirian. Dengan bertanggung jawab, remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang memberikan dampak-dampak negatif (tidak menyenangkan) bagi dirinya. Dalam banyak kasus, masih banyak orang tua yang berjuang keras dengan segala cara untuk membebaskan anaknya dari tahanan, sehingga anak tidak pernah memperoleh kesempatan untuk bertanggung jawab atas perilaku yang diperbuatnya. Pada kondisi demikian, remaja tentu saja tidak takut untuk berbuat salah sebab ia tahu orang tuanya pasti akan menebus kesalahannya.
d.        Konsistensi
Konsistensi orang tua dalam menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai sejak masa kanak-kanak dalam keluarga akan menjadi panutan bagi remaja untuk mengembangkan kemandirian dan berfikir secara dewasa. Orang tua yang konsisten akan memudahkan remaja dalam memilih berbagai alternatif karena segala sesuatu sudah dapat diramalkan olehnya.
Mungkin masih banyak cara lain yang dapat dipertimbangkan dalam meningkatkan kemandirian sang remaja agar menjadi pribadi yang utuh dan dewasa.
Dari penjelasan di atas, maka dapat kami disimpulkan bahwa peranan otang tua sangatlah penting dalam pembentukan kemandirian anak. Kemandirian anak bermula dari keluarga, serta bagaimana orang tua mengasuh anaknya. Peran orang tua terhadap kemandirian anak dilakukan dengan komunikasi secara terpadu dengan anak, member kesempatan, memberi tanggung jawab secara penuh dan konsistensi atas segala sesuatu yang diterapkan kepada anaknya.

2.7     Upaya Perkembangan Kemandirian Remaja dan Implikasinya bagi  Pendidikan
Dengan asumsi bahwa kemandirian sebagai aspek psikologi berkembang tidak dalam kevakuman atau diturunkan oleh orang tuanya maka intervensi positif melalui ikhtiar pengembangan atau pendidikan diperlukan bagi kelancaran perkembangan kemandirian remaja. Sejumlah intervensi dapat dilakukan sebagai ikhtiar pengembang kemandirian remaja, antara lain sebagai berikut:
1.        Penciptaan partisipasi dan keterlibatan remaja dalam keluarga. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk:
a.         Saling menghargai antaranggota keluarga;
b.         Keterlibatan dalam memecahkan masalah remaja atau keluarga.
2.        Penciptaan keterbukaan. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk:
a.         Toleransi terhadap perbedaan pendapat;
b.         Memberiakan alasan terhadap keputusan yang diambil bagi remaja;
c.         Keterbukaan terhadap minat remaja;
d.        Mengembangkan komitmen terhadap tugas remaja;
e.         Kehadiran dan keakraban hubungan dengan remaja.
3.        Penciptaan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk:
a.         Mendorong rasa ingin tahu remaja;
b.         Adanya jaminan rasa aman dan kebebasan untuk mengeksplorasi
lingkungan;
c.         Adanya aturan tetapi tidak cenderung mengancam apabila ditaati.
4.      Penerimaan positif tanpa syarat. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk:
a.         Menerima apapun kelebihan maupun kekurangan yang ada pada diri remaja;
b.         Tidak membeda-bedakan remaja satu dengan yang lain;
c.   Menghargai ekspresi potensi remaja dalam bentuk kegiatan produktif apapun meskipun sebenarnya hasilnya kurang memuaskan.
5.      Empati terhadap remaja. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk:
a.         Memahami dan menghayati pikiran dan perassaan remaja;
b.   Melihat berbagai persoalan remaja dengan menggunakan perspektif atau sudut pandang remaja;
c.         Tidak mudah mencela karya remaja betapa pun kurang bagusnya karya itu.
6.      Penciptaan kehangatan hubungan dengan remaja. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk:
a.         Interaksi secara akrab tetapi tetap saling menghargai;
b.         Menambah frekuensi interaksi dan tidak bersikap dingin terhadap remaja;
c.         Membangun suasana humor dan komunikasi ringan dengan remaja.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa upaya perkembangan kemandirian remaja dapat melalui ikhtiar perkembangan atau pendidikan. Pendidikan yang diperlukan bagi kelancaran perkembangan kemandirian remaja meliputi penciptaan partisipasi dan keterlibatan remaja dalam keluarga, penciptaan keterbukaan, pensiptaan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan, penerimaan positif tanpa syarat, empati terhadap remaja, dan juga penciptaan kehangatan hubungan dengan remaja.


BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah kemampuan seseorang untuk tidak bergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian juga merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dan individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandiriannya, seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk berkembang dengan lebih mantap dan dibutuhkan kesempatan, dukungan, dan dorongan dari keluarga serta lingkungan disekitarnya, untuk mencapai otonomi atas diri sendiri. Pada saat ini peran orang tua dan respon dari lingkungan sangat diperlukan bagi anak sebagai “penguat” untuk setiap perilaku yang telah dilakukannya.
Kemandirian berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, meskipun dunia pendidikan (sekolah) turut berperan dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri. Orang tua juga harus bertindak dalam menyikapi tuntutan kemandirian seorang remaja, seperti halnya komunikasi, kesempatan, tanggung jawab, dan konsistensi. Dalam perkembangan kemandirian remaja terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti keturunan orang tua, pola asuh orang, sistem pendidikan di sekolah, dan sistem kehidupan di masyarakat.
Dengan kemandirian remaja dapat dilakukan upaya pengembangan kemandirian atau pendidikan sangat diperlukan bagi kelancaran perkembangan kemandirian remaja, antara lain penciptaan partisipasi dan keterlibatan remaja dalam keluarga, penciptaan keterbukaan, penciptaan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan, penerimaan positif tanpa syarat, empati terhadap remaja, dan penciptaan kehangatan hubungan dengan remaja.
         
3.2     Saran
1.  Kemandirian yang menjadi tolak ukur suatu kehidupan harus dikembangkan sesuai dengan hakikatnya.
2.        Remaja dapat mempunyai moral yang baik bila dapat memilih aspek yang positif bagi dirinya agar dapat berguna bagi dirinya ataupun orang lain.
3.    Orang tua yang menjadi kontrol dan monitor bagi anaknya yang diwajibkan untuk dapat selalu mengevaluasi tindakan anak tanpa bentuk kekerasan dan diperuntukan untuk memberikan kebebasan atau hak sebagai anak namun tetap pada jalurnya.
4.   Proses perkembangan anak untuk tahap formal dan nonformal didapat dari pendidikan yang didapatkan melalui proses jalur pendidikan. Anak bisa mengembangkan potensi yang dimiliki melalui proses belajar mengajar untuk menemukan jati diri setiap anak dengan bantuan pendidik yang profesional.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar