Selasa, 24 Desember 2013

Psikologi Perkembangan Emosi


BAB I
Pendahuluan

1.1.Latar Belakang
Perasaan dan emosi pada umumnya di sifatkan sebagai keadaan (state) yang ada pada individu atau organisme pada sesuatu waktu. Misal seseorang merasa sedih, senang, takut, marah ataupun gejala-gejala yang lain setelah melihat, mendengar atau merasakan sesuatu. Dengan kata lain perasaan dan emosi disifatkan sebagai suatu keadaan kejiwaan pada organisme atau individu sebagai akibat adanya peristiwa atau persepsi yang di alami oleh organisme. Pada umumnya peristiwa atau keadaan tersebut menimbulkan kegoncangan-kegoncangan dalam diri organisme yang bersangkutan.
Emosi pada umumnya berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, sehingga emosi berbeda dengan mood. Mood atau suasana hati pada umumnya berlangsung dalam waktu yang relatif lebih lama daripada emosi, tetapi intensitasnya kurang apabila dibandingkan dengan emosi. Apabila seseorang mengalami marah (emosi), maka kemarahan tersebut tidak segera hilang begitu saja, tetapi masih terus berlangsung dalam jiwa seseorang (ini yang di maksud dengan mood) yang akan berperan dalam diri orang yang bersangkutan. Namun demikian ini juga perlu dibedakan dengan temperamen. Temperamen aalah keadaan psikis seseorang yang lebih permanen daripada mood karena itu temperamen lebih merupakan prediposisi yang ada pada diri seseorang, dan karena itu temperamen lebih merupakan aspek kepribadian seseorang apabila di bandingkan dengan mood.

1.2.Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang dapat di rumuskan masalah di antaranya:
1.      Apa yang di maksud dengan perkembangan emosi?
2.      Apa saja macam-macam emosi?
3.      Bagaimana terjadinya (proses) perkembangan emosi pada manusia?

1.3.Tujuan penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk menambah wawasan mengenai perkembangan emosi.
2.      Untuk mengetahui jenis-jenis dari emosi.
3.      Untuk mengetahui perkembangan emosi sejak bayi sampai remaja.
4.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah psikologi perkembangan.


BAB II
Landasan Teoritis
2.1  Pengertian Emosi
Pada umumnya perbuatan kita sehari-hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu , yaitu perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau perasaan tidak senang yang selalu menyertai perbuatan kita sehari-hari disebut warna efektif, warna efektif ini kadang-kadang kuat,kadang-kadang lemah atau samar-samar saja. Dalam warna efektif yang kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas dan lebih terarah.Perasaan-perasaan seperti ini disebut emosi. Beberapa macam emosi yaitu: gembira, bahagia, semu, terkejut, benci, senang, sedih, was-was dan sebagainya.
2.2  Teori-teori Emosi
Ada dua macam pendapat tentang terjadinya emosi yaitu:
1.      Pendapat yang nativistik mengatakan bahwa emosi pada dasarnya merupakan bawaan sejak lahir.
2.      Pendapat yang empiristik mengatakan bahwa emosi dibentuk oleh pengalaman dan proses belajar.
Salah satu penganut paham nativistik adalah RENA DESCARTES (1596-1650).Ia mengatakan bahwa sejak lahir manusia telah mempunyai enam emosi dasar yaitu;
1.      Cinta
2.      Kegembiraan
3.      Keinginan
4.      Benci
5.      Sedih
6.      Kagum
Teori emosi yang lain adalah teori kepribadian, menurut pendapat atau teori ini ialah bahwa emosi merupakan suatu aktivitas pribadi. Di mana pribadi ini tidak dapat dipisah-pisahkan dalam jasmani dan psikis sebagai dua substansi yang terpisah. Karena itu, maka emosi meliputi pula perubahan-perubahan kejasmanian teori ini dikemukakan oleh J. Linchoten.
Berdasarkan uraian diatas teori-teori emosi merupakan bawaan dari lahir dan berkembang sesuai proses perkembanganya. Serta emosi merupakan suatu aktivitas yang meliputi pola perubahan-perubahan kejasmanian.
2.3  Perkembangan Emosi
Menurut Chaplin
Emosi adalah  sebuah istilah yang sudah popular,namun maknanya sacara tepat masih membingungkan, baik di kalangan ahli psikologi maupun ahli filsafat. Oleh sebab itu kalau rumusan para psikolog tentang emosi sangat bervariasi sesuai dengan orientasi teoritisnya yang berbeda-beda. Dan juga terdapat persesuaian umum bahwa keadaan emosional merupakan suatu reaksi kompleks yang mengait satu tingkat tinggi kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam,serta dibarengi perasaan yang kuat ,atau disertai keadaan afektif.
Menurut Golamen
Istilah emosi merujuk pada”a feeling and its distict give thoughts , psychological and biological states , and range of propensities to act”
Perasaan dan wilayah berfikir, keadaan psikologi dan biologi, dan berbagai kecenderungan untuk bertindak”
Menurut Morgan,King dan Robinson
Mendefinisikan emosi sebagai “A subjective feeling state ,often accompanied by facial and bodily expressions, and having arousing and motivating properties”
“Wilayah berfikir yang sering disertai dengan ekspresi wajah dan tubuh yang membangkitkan serta memotivasi .
Berdasarkan uraian diatas perkembangan emosi dapat diartikan sebagai perasaan dan afeksi yang melibatkan kombinasi antara gejolak fisiologi (seperti denyut jantung yang cepat) dan perilaku yang tampak (seperti senyum atau ringisan).
           
2.4  Penggolongan Emosi
Emosi digolongkan menjadi beberapa macam yaitu:
1.      Emosi yang sangat mendalam
Misalnya, sangat marah atau sangat takut menyebabkan aktvitas badan sangat tinggi, sehingga seluruh tubuh aktif.Dalam keadaan seperti ini sukar menentukan apakah seseorang itu sedang takut atau sedang marah.
2.      Penghayatan
Satu orang yang dapat menghayati satu macam emosi dengan berbagai cara .Misalkan ,kalau marah seorang akan gemetar ditempat, tetapi lain kali ia mamaki-maki, atau mungkin lari.
3.      Nama emosi
Nama yang umumnya diberikan kepada berbagai jenis emosi biasanya didasarkan oleh sifat rangsangannya,bukan pada keadaan emosinya sendiri. Jadi “takut” adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya yang menjengkelkan.

4.      Pengenalan emosi
Pengenalan emosi secara subjektif dan introspektif,sukar dilakukan karena selalu saja ada pengaruh dari lingkungan.
            Berdasarkan uraian diatas emosi dapat di golongkan sebagai emosi yang mendalam, penghayatan, nama emosi, dan pengenalan emosi.
2.5  Pertumbuhan Emosi
Pertumbuhan dan perkembangan emosi, seperti juga pada tingkah laku lainnya, ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar seperti seorang bayi yang baru lahir dapat menangis,tetapi ia harus mencapai ringkas kematangan tertentu untuk dapat tertawa, setelah anak itu sudah lebih besar,maka ia akan belajar bahwa menangis dan tertawa dapat digunakan untuk maksud – maksud tertentu atau untuk situasi tertentu.
Pada bayi yang baru lahir,emosi yang nyata adalah kegelisahan yang tampak sebagai ketidaksenangan dalam bentuk menangis meronta.Tiga bulan kemudian baru tampak perbedaan.Pada saat ini terdapat dua eksminitas,yaitu rasa tertekan atau terganggu dan rasa senang atau gembira.Senang atau gembira, merupakan perkembangan emosi lebih lanjut yang tidak terdapat pada waktu lahir.Pada usia lima bulan, marah dan benci mulai dipisahkan dari rasa tertekan atau terganggu. Usia tujuh bulan mulai tampak perasaan takut. Antara usia 10-12 bulan perasaan bersemangat dan kasih sayang mulai terpisahkan dari rasa senang.Makin besar anak itu,makin besar pula kemampuannya untuk belajar sehingga perkembangan emosinya makin rumit.Perkembangan emosi melalui proses kematangan hanya terjadi sampai satu tahun. Setelah itu perkembangan selanjutnya lebih banyak di tentukan oleh proses belajar.
Pengaruh kebudayaan besar sekali terhadap perkembangan emosi, karena dalam tiap-tiap kebudayaan diajarkan cara menyatakan emosi yang konvensional dan khas dalam kebudayaan yang bersangkutan, sehingga ekspresi tersebut dapat dimengerti oleh orang – orang lain dalam kebudayaan yang sama. Klineberg pada tahun(1933)menyelidiki literature-literatur Cina dan mendapatkan berbagai bentuk ekspresi emosi yang berbeda dengan cara-cara yang ada di dunia Barat.
Ekspresi-ekspresi itu antara lain:
1.      Menjulurkan lidah kalau keheranan .
2.      Bertepuk tangan kalau kuatir.
3.      Menggaruk kuping dan pipi kalau bahagia.
Berdasarkan uraian diatas pertumbuhan emosi pada bayi menimbulkan ekspresi- ekspresi seperti: menjulurkan lidah kalau keheranan, bertepuk tangan kalau kuatir, dan menggaruk kuping atau pipi kalau bahagia.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1.      Pola Perkembangan Emosi
Pada waktu bayi lahir dan beberapa saat sesudah lahir, gejala tingkah laku emosional masih merupakan kegairahan umum yang disebabkan oleh rangsangan yang kuat. Belum terlihat petunjuk yang jelas tentang adanya pola emosional yang dapat menunjukan keadaan emosional tertentu. Akan tetapi seringkali sebelum masa anak terakhir telah tampak perbedaan-perbedaan gerakan dalam bentuk reaksi yang sederhana yang menunjukan kesenangan atau ketidaksenangan. Respon yang tidak menyenangkan ditimbulkan oleh pergantian letak bayi dengan penglihatan tiba-tiba, suara keras yang tiba-tiba, gerakan-gerakan bayi yang terlambat, popok yang basah, dan benda-benda dingin yang disentuhkan pada kulit bayi. Rangsangan-rangsangan yang demikian akan mengakibatkan bayi menangis. Respon yang menyenangkan, sebaliknya dapat ditimbulkan melalui mengayun si anak, membelainya, kehangatan dan mengusap. Bayi memperlihatkan kesenangannya dengan membuat badannya sesantai mungkin.
Perbedaan-perbedaan  yang sederhana ini yang muncul segera setelah kelahiran, bayi mengembangkan pola-pola emosi tertentu yang segera dapat terlihat dalam tingkah lakunya. Malah sebelum akhir tahun pertama dari kehidupannya, ekspresi dapat dipersamakan dengan keadaan emosional pada orang dewasa. Semakin bertambah umur anak, ia akan memperlihatkan pengulangan respons emosionalnya yang semakin meningkat yang dikenal oleh orang dewasa sebagai gembira, marah, takut, cemburu, bahagia, ingin tahu, iri, dan benci. Bentuk-bentuk tingkah laku emosional ini dapat ditimbulkan oleh berbagai macam rangsangan yang luas, termasuk manusia, benda dan situasi yang pada mulanya tidak berpengaruh.
Pada saat anak dilahirkan tidak terdapat emosi-emosi yang menyenangkan yang ada hanyalah rasa atau keadaan tenang. Selama dua bulan pertama rasa tenang dan ketidaksenangan muali tampak sebagai reaksi terhadap rangsangan fisik. Pada bulan ketiga, rasa senang ditimbulkan oleh rangsangan psikologi, sebagaimana terlihat dalam senyuman, bayi sebagai respons terhadap wajah-wajah manusia. Tak lama kemudian, rasa tidak senang dapat ditimbulkan oleh rangsangan psikologi maupun rangsangan fisik, sebagaimana yang terlihat dalam reaksi bayi bila ditinggalkan seorang diri.
Setelah usia enam bulan, emosi-emosi negative mulai menonjol. Pertama-tama ialah rasa cemas, dua bulan kemudian emosi menguasai terhadap benda permainan muncul, antara bulan kesembilan dan kesepuluh, rasa cemburu mulai timbul; dan antara bulan kesepuluh dan kedua belas, rasa kecewa, marah, cinta, simpati, keramahan, kegembiraan, dan rasa memiliki sesuatu, semuanya ini sudah dapat dibeda-bedakan. Walaupun terdapat variasi antara anak yang satu dengan anak yang lain, akan tetapinya polanya tetap sama.
Berdasarkan pembahasan diatas bahwa pola perkembangan emosi adalah tahapan-tahapan perubahan emosi pada manusia yang terjadi pada setiap fase. Perubahan ini dapat berupa perubahan tingkah laku emosional yang timbul akibat adanya rangsangan dari dalam tubuh maupun sikap yang ditimbulkan oleh orang lain serta benda-benda disekitarnya. Perubahan yang terjadi dapat menyenangkan atau tidak menyenangkan.
3.2.      Jenis-jenis emosi yang umum terjadi pada masa anak-anak
3.2.1.      Takut
 Adanya rasa takut pada anak-anak adalah baik selama rasa takut itu tidak terlalu kuat dan hanya merupakan peringatan terhadap bahaya. Sayangnya, kebayakan anak-anak belajar takut  terhadap fisik dan mentalnya terganggu. Bila hal-hal yang tidak berbahaya, dan rasa takut ini menjadi penghambat terhadap tindakan yang mungkin sekali sangat berguna ataupun menyenangkan. Lebih gawat lagi, banyak anak-anak yang menyebabkan berbagai macam rasa takut yang kuat dalam dirinya sehingga kesehatan fisik dan mentalnya terganggu. Apabila tidak ada penyaluran yang memuaskan bagi ketegangan – ketegangan emosional ini, maka kesehatan anak akan terganggu, pandangan hidupnya akan tercemar, dan penyesuainnya terhadap sesama manusia tidak menguntungkan. Dengan demikian rasa takut menjadi penghalang bagi anak, yang seharusnya rasa takut tersebut merupakan peringatan tehadap kemungkinan bahaya.
3.2.2.      Cemas
Cemas ialah suatu bentuk  rasa takut yang bersifat khayalan. Jadi bukan rasa takut yang disebabkan stimulus dari lingkungan anak. Kecemasan ini mungkin datangnya dari situasi-situasi yang diimajinasikan akan terjadi. Tapi dapat pula asalnya dari buku-buku, film, komik, radio ataupun cara-cara rekreasi populer lainnya. Oleh karena rasa cemas ini disebabkan oleh imajinasi atau khayalan bukan dari stimulus nyata, karena ia tidak terdapat pada anak-anak pada usia muda. Kecemasan dapat terjadi bila anak telah mencapai tingkat perkembangan intelektual di mana ia bisa berimajinasi tentang hal-hal yang secara langsung tidak ada di hadapannya.  
3.2.3.      Marah
Marah merupakan reaksi emosional yang lebih sering terjadi pada masa anak-anak oleh karena:
1.      Lebih banyak stimulus yang menimbulkan kemarahan dalam kehidupan anak daripada stimulus yang menimbulkan rasa takut.
2.      Banyak anak-anak yang pada usia muda telah menemukan bahwa marah merupakan cara yang baik untuk mendapatkan perhatian atau memuaskan keinginannya.
Anak yang lebih tua lebih banyak mengalami ketegangan emosional sebagai akibat frustasi ( bosan) dibandingkan dengan anak usia muda. Frustasi ialah perasaan ketidakberdayaan, kekecewaan, ketidakmampuan, atau kecemasan yang kuat yang terjadi bila suatu keinginan atau dorongan terhambat.
3.2.4.      Cemburu
Cemburu merupakan respons yang normal terhadap kehilangan nyata atau ancaman terhadap kehilangan kasih sayang. Cemburu adalah kelanjutan dari marah yang menimbulkan sikap benci atau dendam yang ditujukan terhadap orang, sedangkan marah apat ditujukan terhadap orang, diri sendiri,ataupun benda-benda. Dalam cemburu sering terdapat kombinasi antara marah dan takut. Orang yang cemburu merasa tidak yakin atau tidak aman dalam hubungannya dengan orang yang di cintai atau dikasihinya dan ia merasa takut kehilangan kedudukannya atau statusnya dalam kasih sayang  orang yang dicintainya itu. Apa yang menyebabkan orang cemburu dan bagaimana bentuk kecemburuannya banyak dipengaruhi oleh pendidikannya dan perlakuan yang diterimanya dari orang lain, tidak hanya pada masa kanak-kanak tetapi sepanjang hidupnya. Puncak kecemburuan datang pada umur tiga dan empat tahun.
3.2.5.      Kegembiraan, kesenangan, dan kenikmatan
Kegembiraan dalam bentuknya yang lebih lunak dikenal sebagai ketenangan, kenikmatan atau kebahagiaan, merupakan emosi yang positif oleh karena individu yang mengalaminya tidak melakukan usaha untuk menghilangkan situasi yang menimbulkannya. Ia menerima situasi tersebut atau berusaha untuk mempertahankannya karena hasil yang menyenangkan yang diperolehnya. Situasi – situasi ini yang menimbulkan kegembiraan yang berbeda dari usia ke usia.
3.2.6.      Kasih sayang
Kasih sayang atau cinta adalah reaksi emosional yang ditujukan terhadap seseorang atau suatu benda. Kasih sayang anak terhadap orang lain terjadi secara spontan dapat ditimbulan oleh suatu stimulasi sosial yang minim sekalipun. Namun, belajar memainkan peranan yang penting dalam menentukan orang-orang tertentu atau objek-objek tertentu terhadap siapa anak menaruh kasih sayang atau cintanya. Kasih sayang atau cinta itu diperoleh anak melalui belajar, bukan di bawa dari lahir, maka cintanya terhadap anggota keluarganya atau terhadap orang lain yang tidak mempunyai tali persaudaraan dengannya tergantung pada bagaimana mereka memperlakukannya dan apakah hubungannya merupakan pengalaman yang menyenagkan.

3.2.7.      Ingin tahu
Minat terhadap lingkungan sangat terbatas selama usia dua atau tiga bulan pertama dari kehidupan kecuali dalam stimulus yang kuat ditujukan terhadap si bayi setelah usia itu, apa saja yang baru atau aneh baginya, pasti akan menimbulkan rasa ingin tahunya. Hal ini mendorongnya untuk melakukan eksplorasi sampai rasa ingin tahunya terpuaskan. Minatnya tidak hanya terbatas pada objek-objek materi dalam lingkungannya.
Tekanan sosial, dalm bentuk teguran dan hukuman, mencegahnya untuk memuaskan rasa ingin tahunya melalui eksplorasi langsung. Oleh karenanya, segera ia dapat berbicara, ia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai hal-hal yang menimbulkan rasa ingin tahunya. “masa bertanya” dimulai pada usia tiga tahun dan mencapai puncaknya pada kurang lebih usia  enam tahun, di mana anak mulai masuk sekolah dan menerima pendidikan formal. Bila ia telah cukup matang untuk membaca dengan lancar, maka ia akan mmenemukan bahan rasa tahunya dapat dipuaskan melalui membaca tentang hal-hal yang selama ini pemecahannya tidak diperolehnya melalui eksplorasi langsung atau bertanya. Terdorong oleh keinginan untuk bereksplorasi, anak usia delapan atau sembilan tahun banyak menghabiskan waktunya untuk membaca.
Meskipun emosi itu sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman(1995) sempat mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu:
1.      Amarah, di dalamnya meliputi beringas, mangamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit,  berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan.
2.      Kesedihan, di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi.
3.      Rasa takut, di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, sedih, waspada,tidak tenang, ngeri, kecut, panik, dan phobia.
4.      Kenikmatan, di dalamnya meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, takjub, terpesona, puas,rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan mania.
5.      Cinta, di dalamnya meliputi penerimaan, perrssahabatan, kepercayaan, kebaikan, hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, takjub, terpesona.
6.      Terkejut, di dalamnya meliputi terkesiap, takjub, dan terpana.
7.      Jengkel, di dalamnya meliputi hina, jijik, muak,benci, tidak suka, dan mau muntah.
8.      Malu, di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hancur lebur.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa emosi pada manusia sangat beragam jenisnya. Munculnya emosi pun bermacam-macam ada yang muncul secara sepontan atau tiba-tiba ada juga yang muncul karena seorang anak memang sudah pada waktunya mengalami atau merasakan emosi tersebut sesuai dengan perkembangan usia.
3.3.      Fase Perkembangan
Perkembangan emosi terbagi dalam beberapa fase yaitu:
3.3.1.      Fase Bayi.
Perkembangan dan pertumbuhannya bayi akan belajar bagaimana berbicara selain dengan tangisan ataupun senyuman, yaitu lewat kata-kata.
Perkembangan bahasa pada bayi diantaranya:
1.      Bayi 0-1 bulan
Pada usia ini bayi anda akan mengkomunikasikan segala sesuatunya lewat tangisan mereka, tetapi terkadang mereka juga mengeluarkan suara lain selain tangisan. Bayi mulai berkembang untuk mengenali suara tertentu saja, seperti suara musik yang sering mereka dengar ataupun suara lain yang familiar buat mereka. Bayi akan memalingkan pandangannya pada suara yang mereka kenali, dan memberikan respon yang positif saat diajak berbicara.
2.      Usia 1-4 bulan
Bayi akan menggunakan beberapa jenis suara yang bisa dibedakan dan memerhatikan bahasa tubuh orang di sekitarnya. (mulai usia 2 bulan) Kemampuan mendengar bayi semakin meningkat, mulai mengeluarkan suara tertentu (berceloteh, misalnya aah.. uuh..) dalam komunikasinya dengan orang yang sudah mereka kenal, contohnya pada saat pengasuhnya bicara atau tersenyum kepada mereka.(mulai usia 3 bulan) Bayi akan membuat suara-suara untuk menarik perhatian (mulai usia 4 bulan) Bayi akan menangis ketika mereka membutuhkan sesuatu. Bayi mulai tertawa dan tersenyum, terlebih bila dihibur. Bayi dapat menghubungkan suara dengan objek tertentu dan juga dengan gerak badan. Maksudnya mereka sudah mulai dapat mengasosiasikan pola suara dengan suatu benda serta pola suara dengan gerak tubuh.
3.      Usia 4-8 bulan
Bayi mulai memakai tiga atau empat ocehan dan mengombinasikan beberapa huruf hidup dan huruf mati misalnya nanana (mulai usia 5 bulan) Bayi mengeluarkan lebih banyak huruf hidup dan mati seperti k, f, v, ka, da, ma (mulai usia 6 bulan). Bayi mulai merespon saat diajak berbicara langsung. Bayi juga semakin paham dengan berbagai nada suara seperti suara terkejut, senang, serius, dan lainnya (mulai usia 7 bulan). Bayi semakin sering mengulangi suara yang sama berulang-ulang, contohnya suku kata yang sering didengar (mulai usia 8 bulan). Bayi mulai menggumam dengan irama tertentu. Mulai mengenali nama mereka (panggilan mereka). Bayi sudah mulai dapat mengucapkan satu kata tertentu, meskipun masih belum terlalu jelas. Bayi mulai meniru suara tertentu (bukan meniru pembicaraan), seperti mengecap-ecap bibir atau mencoba membunyikan lidah (tongue clicking).
4.      Usia 8-12 bulan
Bayi mulai meniru apa yang diucapkan ibu atau pengasuhnya Bayi mengucapkan kata pertamanya (biasanya sekitar usia 9 bulan). Bayi mendengarkan dengan seksama ketika Anda berbicara, dan sudah mulai mengerti arti perintah sederhana seperti “ayo kesini”. Bayi dapat mengucapkan satu atau dua kata secara konsisten (meskipun belum terlalu jelas). Bayi dapat menunjuk satu gambar dalam buku. Bayi dapat mengungkapkan setuju atau tidak dengan menganggukkan atau menggelengkan kepala mereka. Bayi mulai menyadari nama pengasuhnya dan akan bereaksi ketika nama pengasuhnya disebut atau dipanggil. Bayi mulai dapat berinteraksi secara verbal dengan pengasuhnya. Bayi dapat menggunakan tiga atau empat kata untuk menamai benda yang sudah dikenalnya, misalnya guguk untuk anjing.

3.3.2.      Fase Kanak-kanak
Menginjak usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Oleh karena itu, dia mulai belajar mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperoleh dari meniru dan latihan. Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak berkembang dalam lingkungan keluarga yang suasana emosianalnya stabil maka perkembangan emosi anak cenderung stabil. Emosi-emosi yang secara umum dialami pada tahap perkembangna usia sekolah ini adalah marah, takut, cemburu,iri hati, kasih sayang, rasa ingin tahu kegembiraan, cemas, phobi. Berdasarkan uraian diatas ada hal-hal yang mempengaruhi perkembangan emosi pada anak yaitu:
1.      Elemen-elemen sosial dari  bermain
Selama masa persekolahan, banyak anak yang mulai mengadakan hubungan  dekan dengan orang-orang non keluarga, pada saat anak-anak menjelajahi dunia persekolahan ada peralihan pola bermain anak, dari permainan soliter ke permainan parallel, yaitu anak berdekatan dengan orang-orang lain ketika mereka bermain.
2.      Otonomi dan inisiatif yang berkembang
Anak-anak persekolahan yang awalnya hanya memperhatikan kebutuhan dan keinginan sendiri dengan ketergantungan yang kuat pada pemeliharaan keluarga beralih ke tingkat kemandirian yang lebih tinggi dan penguasaan terhadap lingkungan. Menurut Erikson, anak prasekolah dalam perkembagan sosialnya berada pada peralihan dari tahap “otonomi vs malu-malu dan ragu-ragu” ke tahap “inisiatif vs rasa bersalah”.
3.      Perasaan tentang diri (self)
Pada saat berinteraksi dengan orang lain, anak prasekolah mengembangkan perasaan tentang dirinya atau sering disebut konseo diri., anak akan mengembangkan self-esteem (penghargaan diri), yaitu perasaan tentang seberapa dirinya mereka berharga, meliputi bidang perestasi akademik, keterampilan sosial, dan penampilan fisik mereka. Anak-anak dengan self-esteem positif biasanya percaya diri, berprestasi, mandiri dan ramah; sedangkan anak dengan self-esteem negative digambarkan sebagai anak yang ragu-ragu,tidak mampu tergantung dan menarik diri.
4.      Konflik sosial
Apabila seorang anak tidak dapat mengatasi konflik sosial secara verbal. Maka ia akan beralih menggunakan kekerasan fisik untuk mengatasinya. Dalam hal ini, pendidik perlu membantu anak bagaimana cara mengungkapkan perasaanya secara verbal, dan mengatasi konflik sosial yang ada secara verbal pula. Misal ”harap jangan mengambil balok biru itu dari tas saya, saya membutuhkanya untuk membuat bangunan rumah”. Prilaku sosial terlihat apabila anak menunjukkan empati atau alturisme. Anak-anak prasekolah sering menunjukkan prlaku agresif untuk mempertahankan mainanya.
5.      Ketakutan-ketakutan anak
Sejak dini, anak kecil sudah mampu merasakan dan mengekspresikan emosinya, seperti: senang, marah, susah, dan takut. Pada tahun-tahun berikutnya anak mengalami emosi lain seperti malu, rasa bersalah, dan bangga. Pada masa prasekolah anak tidak hanya mengembangkan emosi-emosi tersebut. Tapi juga cara mengendalikanya. Pada masa ini juga, anak sudah mampu menggunakan bahasa untuk meberi nama pada emosi yang dialaminya, misalnya mengatakan “saya takut”.


3.3.3.      Fase Remaja
Remaja merupakan masa peralihan antara anak-anak menuju ke masa dewasa. Pada masa ini remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial dan emosional. Masa ini biasanya biasanya dirasakan sebagai masa yang sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga atau lingkungannya.
Karena berada pada masa peralihan antara anak-anak dan masa dewasa, maka status remaja agak kabur, baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Masa remaja biasanya memiliki energi yang besar, emosi yang berkobar-kobar, sedangkan pengendalian belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian. Secara garis besar, masa remaja dapat dibagi kedalam empat periode, yaitu:[1]
1.      Periode Pra-remaja
Selama periode ini terjadi gejala-gejala yang hampir sama antara remaja pria maipun wanita. Perubahan fisik belum begitu tampak jelas, tetapi pada remaja putri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa kegemukan. Gerakan-gerakan mulai menjadi kaku. Perubahan ini disertai difat kepekaaan terhadap rangsangan-rangsangan dari luar, responnya biasanya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang atau bahkan meledak-ledak.

2.      Periode Remaja Awal
Selama periode ini perkembangan gejala fisik yang tampak semakin jelas adalah perubahan fungsi alat-alat kelamin. Karena perubahan alat-alat kelamin serta perubahan fisik yang semakin nyata ini, remaja sering mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang mereka cenderung menyendiri sehingga tidak jarang mereka terasing, kurang perhatian dari orang lain, bahkan merasa tidak ada orang yang mau memperdulikannya. Kontrol terhadap dirinya tambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar.

3.      Periode Remaja Tengah
Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja untuk dapat menuju ke arah mampu memikul sendiri seringkali menimbulkan masalah tersendiri bagi remaja. Karena tuntutan peningkatan tanggung jawab ini tidak hanya datang dari orang tua atau anggota keluarganya melainkan juga dari masyarakat sekitar, maka tidak jarang masyarakat juga terbawa-bawa menjadi masalah bagi remaja. Melihat fenomena yang terjadi dalam masyarakat yang seringkali juga menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui, maka tidak jarang juga remaja mulai meragukan tentang apa yang disebut baik atau buruk. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri. Lebih-lebih jika orang tua atau orang dewasa disekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya agar dipatuhi oleh remaja tanpa disertai alasan yang masuk akal menurut mereka atau bahkan orang tua atau orang dewasa menunjukkan perilaku yang tidak konsisten dengan nilai-nilai yang dipaksakannya itu.

4.       Periode Remaja Akhir
Selama periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukan pemikiran, sikap, dan perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknyakepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga menjadi semakin lebih bagus dan lancar karena mereka sudah semakin memiliki kebebasan yang relatif terkendali serta emosinya pun mulai stabil. Pilihan arah hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu mengambil keputusan tentang arah hidupnya secaara lebih bijaksana meskipun belum bisa secara penuh. Mereka juga mulai memilih cara-cara hidup yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap dirinya sendiri, orang tua, dan masyarakat.
            Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
Perkembangan emosi pada umumnya tampak jelas pada perubahan tingkah laku. Demikian juga pada perkembangan emosi remaja. Kualitas atau fluktuasi gejala yang tampak dalam tingkah laku itu tergantung pada tingkat fluktuasi emosi yang ada pada individu tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa tingkah laku emosional, misalnya: agresif, rasa takut yang berlebihan, sikap apatis, dan tingkah laku menyakiti diri, seperti: melukai diri sendiri, memukul-mukul kepala sendiri, dan sejenisnya. Berdasarkan perubahan-perubahan pada remaja, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja, yaitu:[2] 
1.      Perubahan Jasmani
Pertumbuhan jasmani yang ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan yang sangat cepat dari anggota tubuh memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosi pada remaja. Pada taraf permulaan, pertumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh tidak seimbang. Ketidakseimbangan tubuh ini sering mempumyai akibat yang tak terduga pada perkembangn emosi remaja. Tidak setiap remaja dapat menerima kondisi tubuh seperti itu, lebih-lebih jika perubahan tersebut menyangkut perubahan kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat. Hormon-hormon tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehinga dapat menyebabkan rangsangan didalam tubuh remaja dan seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya.

2.      Perubahan Pola Interksi dengan Orang Tua
Pola interaksi orang tua dengan anak, termasuk remaja, sangat bervariasi. Ada yang pola interaksinya apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat memaksakan kehendak, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga yang penuh dengan cinta kasih. Perbedaan pola interaksi orang tua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkeambangan emosi remaja.cara memberikan hukuman, misalnya ketika dulu masih anak-anak, orang tua bisa memukul jika anak berbuat nakal, tetapi pada saat remaja cara-cara semacam itu justru dapat menimbulkan ketegangan yang lebih berat antara remaja dengan orang tuanya.
Pemberontakan terhadap orang tua menunjukkan bahwa mereka berada dalam keadaan konflik dan ingin melepaskan diri dari pengawasa orang tua. Mefreka tidak merasa puas kalau tidak pernah sama sekali menunjukkan perlawanan terhadap orang tua karena ingin menunjukkan bahwa dirinya telah berhasil menjadi orang yang lebih dewasa. Jika mereka berhasil dalam perlawanan terhadap orang tua sehingga orang tuanya marah, maka merekapun belum puas karena orang tua tidak menunjukkan pengertian yang mereka inginkan. Keadaan semacam ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi remaja.

3.      Perubahan Interaksi dengan Teman Sebaya
Remaja seringkali membanguninteraksi sesama teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktifitas bersama dan membentuk semacam “geng”. Interaksi antar anggota dalam satu kelompok “geng” biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas serta solidaritas yang sangat tinggi.
Faktor yang sering mendatangkan masalah emosi pada remaja adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis. Pada masa remaja tengah biasanya remaja benar-benar merasa jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Gejala ini sebenarnya sehat bagi remaja, tetapi juga tidak jarang menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada remaja jika tidak diikuti dengan bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa. Oleh sebab itu, orang tua justru merasa senang atua bahkan cemas ketika anak remajanya jatuh cinta. Gangguan emosional yang mendalam dapat terjadi ketika cinta remaja tidak terjawab, ditolak atau karena pemutusan hubungan cinta sepihak sehingga banyak mendatangkan kecemasan bagi orang tua dan bagi remaja itu sendiri.

4.      Perubahan Pandangan Luar
Faktor penting yang dapat mempengaruhi perkembangan emosi remaja selain perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja itu sendiri adalah pandangan dunia luar dirinya. Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut:
a.       Sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten. Kadang-kadang mereka dianggap sudah dewasa, tetapi mereka tidak mendapat kebebasan penuh atau peran yang wajar sebagaimana orang dewasa. Seringkali mereka masih dianggap anak kecil sehingga berakibat timbulnya kejengkelan pada diri remaja. Kejengkelan yang mendalam dapat berubah menjadi tingkah laku emosional.
b.      Dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan perempuan. Kalau remaja laki-laki memiliki banyak teman perempuan, mereka mendapat predikat “populer” dan mendatangkan kebanggaan. Sebaliknya, apabila remaja putri mempunyai banyak teman laki-laki sering dianggap tidak baik bahkan mendapat predikat yang kurang baik pula. Penerapan nilai yang berbeda semacam ini jika tidak  disertai dengan pemberian pengertian bijaksana dapat menyebabkan remaja bertingkah laku emosional.
c.       Serigkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab yaitu dengan cara melibatkan remaja tersebut kedalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai-nilai moral, seperti: penyalahgunaan obat terlarang, minum-minuman keras, atau tindak kriminal dan kekerasan. Perlakuan dunia luar semacam ini akan sangat merugikan bagi perkembangan emosional remaja.

5.      Perubahan Interaksi dengan Sekolah
Pada masa anak-anak, sebelum menginjak masa remaja, sekolah merupakan suatu tempat pendidikan yang sangat diidealkan oleh mereka. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu, tidak jarang anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru dari pada kepada orang tuanya. Posisi guru semacam ini sangat strategis bila digunakan untuk pengembangan emosi anak melalui penyampaian nilai-nilai luhur, positif, dan kontruktif.
Namun demikian, tidak jarang terjadi bahwa dengan figur sebagai tokoh tersebut guru memberikan ancaman-ancaman tertentu kepada para peserta didiknya. Peristiwa semacam ini sering tidak disadari oleh guru bahwa dengan ancaman-ancaman itu sebenarmya hanya akan menambah permusuhan saja dari anak-anak setelah anak-anak tersebut menginjak masa remaja. Cara-cara seperti ini akan memberikan stimulus negatif bagi perkembangan emosi anak.
Berdasarkan uraian diatas, perkembangan emosi dibedakan menjadi tiga fase, yaitu: fase bayi, fase kanak-kanak, dan fase remaja. Fase bayi merupakan fase awal dari perkembangan emosi. Bayi mengggunakan berbagai macam gerakan atau tingkah laku untuk berinteraksi kepada orang lain.
Fase kanak-kanak merupakan fase setelah bayi. Usia kanak-kanak perkembangan emosi cenderung pada rasa ingin tahu dari anak-anak. Shingga pada usia anak-anak mulau muncul berbagai jenis emosi.
Fase remaja merupakan fase pembentukan dari emosi. Pada masa pembaharuan para remaja sering terbentur pada nilai-nilai yang tidak dapat mereka terima atau yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai yang menarik bagi mereka. Pada saat ini timbullah idealisme untuk mengubah lingkungannya. Idealisme seperti ini tidak boleh diremehkan dengan anggapan bahwa semuanya akan muncul setelah mereka dewasa nanti. Sebab, idealisme yang dikecewakan akan berkembang menjadi tingkah laku emosional yang destuktif. Sebaliknya, kalau remaja berhasil diberikan penyaluran yang positif untuk mengembangkan idealismenya akan sangat bermanfaat bagi pengembangan lebih lanjut sampai mereka memasuki masa dewasa.



BAB IV
Penutup
4.1.Simpulan
Perkembangna emosi erat hubungan dengan fase-fase perkembangan fisik maupun psikis seorang anak. Perkembangan emosi dipengaruhi oleh kematangnan dan belajarnya individu itu pada tiap tahap perkembangannya. Sebenarnya dalam masa pertumbuhan dan perkembangan hampir semua fungsi yang esensial dari seorang individu selalu ada dan terdapat kerja sama di antara fungsi-fungsi tersebut dan kemudian makin hari makin bertambah kompleks. Sebagai gambaran suatu proses yang semakin kompleks yaitu mulai dari anak itu belajar bejalan, berbicara sapai pada berfantasi dan berpikir, oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa keadaan dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang individu baik dalam maupun luar akan membentuk sifat khas emosi dari individu itu.
Perkembangan emosi erat hubungannya dengan pola perkembangan emosi yang merupakan tahapan perubahan emosi pada manusia. Perubahan ini dapat berupa perubahan tingkah laku emosional yang timbul akibat adanya rangsangan dari dalam tubuh maupun sikap yang ditimbulkan oleh orang lain serta benda-benda disekitarnya. Manusia memiliki berbagai jenis emosi. Emosi-emosi tersebut dapat muncul secara tiba-tiba maupun secara normal. Jenis-jenis emosi diantaranya: cinta, kegembiraan, keinginan, benci, sedih dan kagum.
Fase perkembangan emosi dibedakan menjadi tiga fase yaitu fase bayi, fase anak-anak, dan fase remaja. Fase bayi merupakan fase awal, yang ditandai dengan keinginan bayi untuk menyampaikan beberapa hal dengan cara menangis maupun gerakan tertentu. Lanjutan dari fase adalah fase anak-anak, pada fase ini anak mulai mengenal orang lain dan timbullah berbagai macam emosi. Fase yang terakhir merupakan fase remaja. Fase remaja disebut fase terakhir karena pada fase ini terjadi pembentukan emosi pada anak, dan emosi akan terbentuk dengan sempurna ketika seorang remaja menjadi dewasa
4.2.Saran
  1. Para guru harus lebih memahami pola perkembangan emosi pada anak-anak maupun remaja. Jika pada saat kegiatan belaj mengajar berlangsung terjadi sebuah penyimpangan emosi (emosi yang mengarah pada kejelekan) seorang guru dapat menanganinya dengan baik.
  2. Para orang tua yang baru pertama kali memiliki seorang bayi, mengetahui perkembangan emosi pada bayi itu sangat penting, agar dapat mengarahkanya dengan baik.
  3. Para remaja harus mengetahui perkembangan emosi, karena pada masa remaja emosi masih dalam keadaan tidak stabil. Sehingga dengan mengetahui jenis serta perkembangan emosi, remaja dapat mengendalikan diri dan menjadi remaja yang baik.

[1] Asrori, mohammad, Psikologi Pendidikan, (Bandung: CV WACANA PRIMA, 2007), hlm.87-88.
[2] Ibid, hlm.89-92.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar