Selasa, 24 Desember 2013

Psikologi Perkembangan Kognitif

BAB I
PENDAHULUAN

Pada masa kanak-kanak awal, anak berpikir konvergen menuju ke suatu  jawaban yang paling mungkin dan yang paling benar terhadap suatu persoalan. Menurut teori perkembangan kognitif Piaget, anak pada masa kanak-kanak awal berada pada tahap perkembangan praoperasional (2-7tahun), istilah praoperasional menunjukan pada pengertian belum matangnya cara kerja pikiran. Pemikiran pada tahap praoperasional masih kacau dan belum terorganisasi dengan baik (Santrock, 2002) yang sering dikatakan anak belum mampu menguasai operasi mental secara logis.
Suatu mitos bertahan hingga sekarang, bahwa menjadi tua berarti mengalami kemunduran intelektual. Mitos ini diperkuat oleh sejumlah peneliti awal yang berpendapat bahwa seiring dengan proses penuaan selama masa dewasa terjadi kemunduran dalam inteligensi umum. Misalnya dalam studi kros-seksional, meneliti menguji orang-orang dari berbagai usia pada waktu yang sama. Ketika memberikan tes inteligensi kepada sampel yang representatif, peneliti secara konsisten menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua memberikan lebih sedikit jawaban yang benar dibanding orang dewasa yang lebih muda. Oleh karena itu, David Wechsler (1972), menyimpulkan bahwa kemunduran kemampuan mental merupakan bagian dari proses penuaan organisme secara umum. Hampir semua studi menunjukkan bahwa setelah mencapai puncaknya pada usia antara 18 dan 25 tahun, kebanyakan kemampuan manusia terus-menerus mengalami kemunduran.
            Akan tetapi, studi Thorndike mengenai kemampuan belajar orang dewasa menyimpulkan bahwa kemampuan belajar mengalami kemunduran sekitar 15% pada usia 22 dan 42 tahun. Kemampuan untuk mempelajari pelajaran-pelajaran sekolah ternyata hanya mengalami kemunduran sekitar 0,5% sampai 1% setiap tahun antara usia 21 dan 41 tahun. Memang, puncak kemampuan belajar bagi kebanyakan orang terdapat pada usia 25 tahun, namun kemunduran yang terjadi sesudah usia 25 hingga 45 tahun tidak signifikan. Bahkan pada usia 45 tahun kemampuan belajar seorang sama baiknya dengan ketika mereka masih berusia antara 20 hingga 25 tahun (Witherington, 1986).
            Studi Thorndike tersebut menunjukkan bahwa kemunduran kemampuan intelektual pada orang dewasa tidak disebabkan oleh faktor usia, melainkan oleh faktor-faktor lain. Witherington (1986), menyebutkan tiga faktor penyebab terjadinya kemunduran kemampuan belajar orang dewasa. Pertama, ketiadaan kapasitas dasar. Orang dewasa tidak akan memiliki kemampuan belajar bila pada usia muda juga tidak memiliki kemampuan belajar yang memadai. Kedua, terlampau lamanya tidak melakukan aktifitas-aktifitas yang bersifat intelektual. Artinya, orang-orang yang telah berhenti membaca bacaan-bacaan yang “berat” dan berhenti pula melakukan pekerjaan intelektual, akan terlihat bodoh dan tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan semacam itu. Ketiga, faktor budaya, terutama cara seorang memberikan sambutan, seperti kebiasaan, cita-cita, sikap dan prasangka-prasangka yang telah mengantar, sehingga setiap usaha untuk mempelajari cara sambutan yang baru akan mendapat tantangan yang kuat.
            Berbicara mengenai perkembangan kognitif seringkali tidak dapat dipisahkan dari seorang pelopor psikologi kognitif yang bernama Jean Piaget. Dia memang merupakan seorang ahli psikologi yang memberikan sumbangan sangat besar dalam psikologi kognitif.Hasil-hasil pemikiran dan temuan-temuan penelitian Jean Piaget yang dilakukan secara serius terhadap tiga orang anaknya secara longitudinal bertahun-tahun, sampai saat ini masih berpengaruh di dunia ilmu psikologi maupun pendidikan yang membahas intelek atau perkembangan berpikir manusia. Piaget merupakan ahli psikologi yang mempelopori pembahasan berpikirmanusia dengan menyusun tahapan-tahapan atau tingkatan kemampuan berpikir manusia sehingga dapat diketahui kemampuan berpikir manusia sesuai dengan perkembangan umur mereka.
            Perkembangan kognitif manusia yang merupakan proses psikologis didalamnya melibatkan proses-proses memperoleh, menyusun dan menggunakan pengetahuan, serta kegiatan-kegiatan mental, seperti: mengingat, berpikir, menimbang, mengamati, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan memecahkan persoalan yang berlangsung melalui interaksi dengan lingkungan.
            Jean Piaget tidak sependapat dengan pandangan yang mengatakan bahwa kecerdasan adalah merupakan faktor bawaan, yang berarti manusia tinggal menerima perbedaan-perbedaan yang ada, karena pandangan seperti ini akan membawa pengaruh kurang positif atau bahkan negatif terhadap proses pendidikan dan upaya pengembangan kemampuan berpikir anak. Berdasarkan penelitiannya yang dilakukan secara serius dengan cara mengobservasi secara partisipan dalam jangka waktu lama, Jean Piaget mendapati bahwa anak pada umur tertentu mengalami kesulitan untuk mengerti hal-hal yang sebenarnya sederhana.
            Berdasarkan persoalan-persoalan yang dijabarkan diatas, mengingat perlunya hal itu. Maka Penulis akan membahas permasalahan mengenai “PERKEMBANGAN KOGNITIF”.


BAB II
PERKEMBANGAN KOGNITIF

Perkembangan Kognitif manusia merupakan proses psikologis yang melibatkan proses-proses memperoleh, menyusun dan menggunakan pengetahuan, serta kegiatan-kegiatan mental.
2.1  Pengertian Kognitif
Istilah kognitif seringkali dikenal dengan istilah intelek. Intelek berasal dari Bahasa Inggris “intellect” yang menurut Chaplin (1981) diartikan sebagai:
1.      Proses kognitif,proses berpikir,daya menghubungkan,kemampuan menilai dan kemampuan mempertimbangkan.
2.      Kemampuan mental atau inteligensi.
Menurut Mahfudin Shalahudin (1989) dinyatakan bahwa “intelek” adalah akal budi atau inteligensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan-hubungan dari proses berpikir. Selanjutnya dikatakan bahwa orang yang intelligent adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam tempo yang lebih singkat, memahami masalahnya lebih cepat dan cermat, serta mampu bertindak cepat.
Istilah inteligensi, semula berasal dari bahasa Latin “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain. Menurut William Stern, salah seorang pelopor dalam penelitian intelegensi, mengatakan bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk menggunakan secara tepat segenap alat-alat bantu dan pikiran guna menyesuaikan diri terhadap tuntutan-tuntutan baru. Sedangkan Leis HedisonTerman berpendapat bahwa inteligensi adalah kesanggupan untuk belajar secara abstrak (Patty F, 1982). Disini Terman membedakan antara “concrete ability” yaitu kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat konkrit dan “abstract ability” yaitu kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat abstrak. Orang dikatakan inteligen menurut Terman jika orang tersebut mampu berpikir abstrak dengan baik.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian intelek tidak berbeda dengan pengertian inteligensi yang memiliki arti kemampuan untuk melakukan abstraksi serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru.
Jean Piaget mendefinisikan “intellect” ialah akal budi berdasarkan aspek-aspek kognitifnya, khususnya proses-proses berpikir yang lebih tinggi (Bybee dan Sund, 1982).
Sedangkan “intelligence”atau intelegensi menurut Jean Piaget diartikan sama dengan “kecerdasan” yaitu seluruh kemampuan berpikir dan bertindak secara adaptif termasuk kemampuan-kemampuan mental yang kompleks seperti berpikir, mempertimbangkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan menyelesaikan persoalan-persoalan. Jean Piaget mengatakan bahwa intelegensi adalah seluruh kemungkinan koordinasi yang memberi struktur kepada tingkah laku suatu organisme sebagai adaptasi mental terhadap situasi baru. Dalam arti sempit,intelegensi seringkali diartikan sebagai intelegensi operasional, termasuk pula tahapan-tahapan yang sejak dari periode sensori-motoris sampai dengan operasional formal.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian kognitif adalah seluruh kemampuan berpikir dan bertindak secara adaptif termasuk kemampuan-kemampuan mental yang kompleks seperti berpikir, mempertimbangkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan menyesuikan persoalan-persoalan. Istilah kognitif serimgkali dikenal dengan istilah intelek, yang berarti proses berpikir, daya menghubungkan, kemampuan menilai dan kemampuan mempertimbangkan. Kognitif dapat juga diartikan akal budi berdasarkan aspek-aspek kognitifnya, khususnya proses-proses berpikir yang lebih tinggi.

2.2  Tahapan Perkembangan Kognitif
Jean Piaget membagi perkembangan kognitif menjadi empat tahapan,yaitu:
2.2.1 Tahap Sensori-Motoris
Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini anak berada dalam suatu masa pertumbuhan yang ditandai oleh kecenderungan-kecenderungan sensori-motoris yang amat jelas. Segala perbuatan merupakan perwujudan dari proses pematangan aspek sensori-motoris tersebut. Menurut Piaget, pada tahap ini interaksi anak dengan lingkungannya, termasuk orang tuanya, terutama dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya. Interaksi ini terutama diarahkan oleh sensasi-sensasi dari lingkungannya. Dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya, termasuk juga dengan orang tuanya, anak mengembangkan kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan, melakukan berbagai gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengkoordinasikan tindakan-tindakannya.
2.2.2 Tahap Praoperasional
Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif, dalam arti semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tapi oleh unsur perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang bermakna dan lingkungan sekitarnya.
Pada tahap ini, menurut Piaget, anak sangat bersifat egosentris sehingga seringkali mengalami masalah dalam berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk dengan orang tuanya. Dalam berinteraksi dengan orang lain, anak cenderung sulit untuk dapat memahami pandangan-pandangan orang lain dan lebih banyak mengutamakan pandangan-pandangannya sendiri. Dalam berinteraksi dengan lingkungannya, ia masih sulit untuk membaca kesempatan atau kemungkinan-kemungkinan karena masih punya anggapan bahwa hanya ada satu kebenaran atau peristiwa dalam setiap situasi.
Pada tahap ini anak tidak hanya ditentukan oleh pengamatan indrawi saja, tetapi juga pada intuisi. Anak mampu menyimpan kata-kata serta menggunakannya, terutama yang berhubungan erat dengan kebutuhan mereka. Pada masa ini anak siap untuk belajar bahasa, membaca, atau menyanyi. Menggunakan bahasa yang benar untuk berbicara pada anak akan mempunyai akibat sangat baik pada perkembangan bahasa mereka. Cara belajar yang memegang peran pada tahap ini ialah intuisi. Intuisi membebaskan mereka dan berbicara semaunya tanpa menghiraukan pengalaman konkrit dan paksaan dari luar. Sering kita lihat anak berbicara sendiri dengan benda-benda yang ada di sekitarnya, misalnya: berbicara dengan pohon, anjing, kucing dan sebagainya yang menurut mereka benda-benda tersebut dapat mendengar dan berbicara. Peristiwa semacam ini sangat baik untuk melatih diri anak menggunakan kekayaan bahasanya. Piaget menyebut tahap ini sebagai “collective monolog”, pembicara yang egosentris dan sedikit berhubungan dengan orang lain.
2.2.3 Tahap Operasional Konkrit
Tahap ini berlangsung antara usia 7-11 tahun. Pada tahap ini anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkrit dan sudah mulai berkembang rasa ingin tahunya. Pada tahap ini, menurut Piaget, interaksinya dengan lingkungan, termasuk dengan orang tuanya, sudah semakin berkembang dengan baik karena egosentrisnya sudah semakin berkurang. Anak sudah dapat mengamati, menimbang, mengevaluasi, dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dalam cara-cara yang kurang egosentrisnya dan lebih obyektif. Pada tahap ini juga, anak sudah mulai memahami hubungan fungsional karena mereka sudah menguji coba suatu permasalahan. Cara berpikir anak yang masih bersifat konkrit menyebabkan mereka belum mampu menangkap yang abstrak atau melakukan abstraksi tentang sesuatu yang konkrit. Disini sering terjadi kesulitan antara orang tua dan guru. Misalnya: orang tua ingin menolong anak mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi memakai cara yang berbeda dengan cara yang dipakai oleh guru di sekolah, sehingga anak tidak mau atau tidak setuju karena menganggap cara yang dilakukan oleh orang tuanya itu salah. Itu bisa terjadi karena seringkali anak lebih percaya terhadap apa yang dikatakan oleh gurunya ketimbang orang tuanya. Akibatnya,kedua cara, baik yang diberikan oleh guru maupun orang tua sama-sama tidak dimengerti oleh anak.
2.2.4 Tahap Operasional Formal
Tahap ini dialami oleh anak pada usia 11 tahun keatas. Pada masa ini anak telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari berpikir logis. Aspek perasaandan moralnya juga telah berkembang sehingga dapat mendukung penyelesaian tugas-tugasnya. Pada tahap ini, menurut Piaget, interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas menjangkau banyak teman sebayanya dan bahkan berusaha untuk dapat berinteraksi dengan orang dewasa. Kondisi seperti ini tidak jarang menimbulkan masalah dalam interaksinya dengan orang tua. Namun, sebenarnya secara diam-diam mereka juga masih mengharapkan perlindungan dari orang tua karena belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dirinya sendiri. Jadi, pada tahap ini ada semacam tarik-menarik antara ingin bebas dengan ingin dilindungi. Karena pada tahap ini anak sudah mulai mampu mengembangkan pikiran formalnya, mereka juga mulai mampu mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi. Arti simbolik dan kiasan dapat mereka mengerti. Melibatkan mereka dalam suatu kegiatan akan lebih memberikan pengaruh positif bagi perkembangan kognitifnya. Misalnya: menulis puisi, lomba karya ilmiah, lomba menulis cerpen dan sejenisnya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tahapan perkembangan kognitif dibagi menjadi empat tahapan yaitu tahap sensori-motoris (dimana interaksi ini terutama diarahkan oleh sensasi-sensasi dari lingkungannya), tahap praoperasional (pada tahap ini tidak hanya ditentukan oleh pengamatan indrawi saja, tetapi juga pada intuisi), tahap operasional konkrit (pada tahap ini sudah mulai memahami hubungan fungsional karena mereka sudah menguji coba suatu permasalahan), dan tahap operasional formal (pada tahap ini sudah mulai mampu mengembangkan pikiran formalnya, mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi).

2.3 Hubungan Kognitif dengan Tingkah Laku
Intelegensi, menurut Piaget, merupakan pernyataan dari tingkah laku adaptif yang terarah kepada kontak dengan lingkungan dan penyusunan pemikiran. Piaget memposisikan subjek sebagai pihak yang aktif dalam interaksi adaptif antara organisme atau terjadi hubungan dialektis antara organisme dengan lingkungannya. Apa yang dikatakan oleh Piaget ini, kenyataannya memang benar sebab organisme tidak pernah pisah dari lingkungannya dan juga bukan sebagai penerima yang pasif. Interaksi antara organisme dengan lingkungannya lebih bersifat interaksi timbal balik. Hanya dalam bentuk interaksinya juga setiap perubahan tingkah laku merupakan hasil dialektis pengaruh timbal balik antara organisme dan lingkungannya. Karena pandangannya yang demikian itu, maka teori Piaget tentang intelegensi atau kognitif disebut juga dengan “teori interaksionisme (interactionism theory)” (Bybee dan Sund, 1982).
Jean Piaget memiliki pandangan dasar bahwa setiap organisme memiliki kecenderungan inheren untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Inteligensi sebagai bentuk khusus dari penyesuaian organisme, baru dapat diketahui berkat dua proses yang saling mengisi yaitu yang disebut dengan istilah “asimilasi” dan “akomodasi”. Organisme sebagai suatu sistem dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya karena kemampuan mengakomodasi struktur kognitifnya sedemikian rupa sehingga obyek yang baru itu dapat ditangkap dan dipahami secara memadai. Asimilasi adalah suatu proses individu memasukkan dan menggabungkan pengalaman-pengalaman dengan struktur psikologis yang telah ada pada diri individu. Struktur psikologis dalam diri individu ini disebut dengan istilah “skema” yang berarti kerangka mental individu yang digunakan untuk menafsirkan segala sesuatu yang dilihat atau didengarnya. Skema mampu menyusun pengamatan-pengamatan dan tingkah laku sehingga terjadilah suatu rangkaian tindakan fisik dan mental untuk dapat memahami lingkungannya.
Sangat boleh jadi dalam perkembangan selama kurun waktu tertentu berbagai pengalaman baru tidak sesuai lagi dengan struktur psikologis dalam diri individu dan tidak dapat diasimilasikan kedalam skema-skema yang telah ada. Oleh sebab itu, skema harus diubah, diperluas, dan disesuaikan dengan fakta-fakta yang diperoleh melalui pengalaman-pengalaman baru. Proses penyesuaian skema dengan fakta-fakta yang diperoleh melalui pengalaman-pengalaman baru ini dikenal dengan istilah “akomodasi”. Dengan demikian, proses asimilasi dan akomodasi merupakan dua proses yang berlawanan. Jika dalam asimilasi proses yang terjadi adalah menyesuaikan pengalaman-pengalaman baru yang diperolehnya dengan struktur skema yang ada dalam diri individu, sedangkan akomodasi merupakan proses penyesuaian skema dalam diri individu dengan fakta-fakta baru yang diperoleh melalui pengalaman dari lingkungannya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan kognitif dengan tingkah laku merupakan proses interaksi adaptif yang terarah kepada kontak dengan lingkungan dan penyusunan pemikiran. Interaksi antara organisme dengan lingkungannya lebih bersifat interaksi timbal balik. Dalam bentuk interaksi setiap perubahan tingkah laku merupakan hasil dialektis pengaruh timbal balik antara organisme dan lingkungannya.

2.4Karakteristik Perkembangan Kognitif Subjek Didik
Sebagaimana telah didiskusikan terdahulu bahwa Piaget membagi empat tahapan perkembangan kognitif, yaitu:
(1) Tahap sensori-motoris
(2) Tahap praoperasional
(3) Tahap operasional konkrit
(4) Tahap operasional formal.
Pada tiap-tiap tahapan perkembangan kognitif subjek didik memiliki karakteristik tersendiri sebagai perwujudan kemampuan intelek individu sesuai dengan tahap perkembangannya.
Adapun karakteristik setiap tahapan perkembangan intelek tersebut adalah:
2.4.1 Karakteristik Tahap Sensori Motoris
Tahap sensori-motoris ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut:
a. Segala tindakannya masih bersifat naluriah
b. Aktifitas pengalaman didasarkan terutama pada pengalaman indera
c. Individu baru mampu melihat dan meresapkan pengalaman, tetapi belum mampu untuk mengkategorikan pengalaman itu
d. Individu mulai belajar menangani obyek-obyek konkrit melalui skema-skema sensori-motorisnya.
Sebagai upaya lebih memperjelas karakteristik tahap sensori-motoris ini, maka Piaget merinci lagi tahap sensori-motoris kedalam enam fase dan setiap fase memiliki karakteristik tersendiri sebagai berikut:
1.      Fase pertama (0-1 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.    Individu mampu bereaksi secara refleks
b.    Individu mampu menggerak-gerakkan anggota badan meskipun belum terkoordinasi dengan baik
c.    Individu mampu mengasimilasi dan mengakomodasikan berbagai pesan dari lingkungannya.
2.      Fase kedua (1-4 bulan) memiliki karakteristik bahwa individu mampu memperluas skema yang dimilikinya berdasarkan heriditas.
3.      Fase ketiga (4-8 bulan) memiliki karakteristik bahwa individu mulai dapat memahami hubungan antara perlakuannya terhadap benda dengan akibat yang terjadi pada benda itu.
4.      Fase keempat (8-12 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.    Individu mampu memahami bahwa benda tetap ada meskipun untuk sementara waktu hilang dan akan muncul lagi diwaktu lain.
b.    Individu mulai mampu mencoba-coba sesuatu.
c.    Individu mampu menentukan tujuan kegiatan tanpa tergantung kepada orang tua.
5.      Fase kelima (12-18 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.    Individu mulai mampu untuk meniru
b.    Individu mampu untuk melakukan berbagai percobaan terhadap lingkungannya secara lebih lancar.
6.      Fase keenam (18-24 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.       Individu mulai mampu untuk mengingat dan berpikir.
b.      Individu mampu untuk berpikir dengan menggunakan simbol-simbol bahasa sederhana.
c.       Individu mampu berpikir untuk memecahkan masalah sederhana sesuai dengan tingkat perkembangannya.
d.      Individu mampu memahami diri sendiri sebagai individu yang sedang berkembang.

2.4.2 Karakteristik Tahap Praoperasional
Tahap praoperasional ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut:
a.    Individu telah mengkombinasikan dan mentransformasikan berbagai informasi.
b.    Individu telah mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyatakan ide-ide.
c.    Individu telah mengerti adanya hubungan sebab akibat dalam suatu peristiwa konkrit, meskipun logika tentang hubungan sebab akibat itu tentu belum tepat.
d.   Cara berpikir individu bersifat egosentris yang ditandai oleh tingkah laku berikut ini:
1)                       Berpikir imanigatif
2)                       Berbahasa egosentris
3)                       Memiliki “aku” yang tinggi
4)                       Menampakkan dorongan ingin tahu yang tinggi
5)                       Perkembangan bahasa mulai pesat
2.4.3 Karakteristik Tahap Operasional Konkrit
Tahap operasional konkrit ini ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut:
a.    Segala sesuatu dipahami oleh individu sebagaimana yang tampak saja atau sebagaimana kenyataan yang mereka alami.
b.    Cara berpikir individu belum menangkap yang abstrak meskipun cara berpikirnya sudah nampak sistematis dan logis.
c.    Dalam memahami konsep, individu sangt terikat kepada proses mengalami sendiri. Artinya, individu akan mudah memahami konsep kalau pengertian konsep itu dapat diamati atau individu itu melakukan sesuatu yang berkaitan dengan konsep tersebut.
2.4.4 Karakteristik Tahap Operasional Formal          
Tahap operasional formal ini ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut:
a.    Individu dapat mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi
b.    Individu mulai mampu berpikir logis dengan obyek-obyek yang abstrak
c.    Individu mulai mampu memecahkan persoalan-persoalan yang bersifat hipotetis
d.   Individu bahkan mulai mampu membuat prakiraan (forecasting) di masa depan
e.    Individu mulai mampu untuk mengintrospeksi diri sendiri sehingga kesadaran diri sendiri dapat berkembang dengan baik
f.     Individu mulai mampu membayangkan peranan-peranan yang akan diperankan sebagaiorang dewasa
g.    Individu mulai mampu untuk menyadari diri, mempertahankan kepentingan masyarakat dilingkungannya, dan kepentingan seseorang dalam masyarakat tersebut.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik perkembangan kognitif subjek didik dibagi menjadi empat tahapan perkembangan yaitu karakteristik tahap sensori-motoris, karakteristik tahap praoperasional, karakteristik tahap operasional konkrit dan karakteristik tahap operasional formal.
      
2.5Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif Subjek Didik
Mengenai faktor yang mempengaruhi  perkembangan kognitif individu ini terjadi perbedaan pendapat di antara para ahli psikologi. Kelompok psikometrikaradikal berpendapat bahwa perkembangan intelektual individu itu sekitar 90% ditentukan oleh faktor heriditas, sedangkan pengaruh lingkungan, termasuk di dalamnya pendidikan, hanya memberikan kontribusi sekitar 10% saja. Kelompok ini memberikan bukti bahwa individu yang memiliki heriditas intelektual unggul, maka akan sangat mudah mengembangkannya meskipun hanya dengan intervensi lingkungan secara tidak maksimal. Sebaliknya, individu yang memiliki heriditas intelektual rendah maka intervensi lingkungan seringkali mengalami kesulitan meskipun sudah dilakukan secara maksimal.
Kelompok penganut pedagogis radikal amat yakin bahwa intervensi lingkungan, termasuk pendidikan, justru memiliki andil sekitar 80-85%, sedangkan heriditas hanya memberikan kontribusi 15-20% terhadap perkembangan intelektual individu. Syaratnya adalah memberikan kesempatan rentang waktu yang cukup bagi individu untuk mengembangkan intelektualnya secara maksimal.
Dengan tanpa mempertentangkan kedua kelompok radikal itu,maka perkembangan kognitif sebenarnya dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu heriditas dan lingkungan. Pengaruh kedua faktor itu pada kenyataannya tidak terpisah secara sendiri-sendiri melainkan seringkali merupakan resultante dari interaksi keduanya. Pengaruh faktor heriditas dan lingkungan terhadap perkembangan kognitif itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
2.5.1 Faktor heriditas.
Semenjak dalam kandungan anak telah memiliki sifat-sifat yang menentukan daya kerja kognitifnya. Secara potensial anak telah membawa kemungkinan, apakah akan memiliki kemampuan berpikirnormal, di atas normal, atau di bawah normal. Namun potensi ini tidak akan berkembang atau terwujud secara optimal apabila lingkungan tidak memberi kesempatan untuk berkembang. Oleh karenanya, peranan lingkungan juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan intelektual anak.
2.5.2 Faktor lingkungan.
Ada dua unsur lingkungan yang sangat penting peranannyadalam mempengaruhi perkembangan kognitif anak, yaitu keluarga dan sekolah.
a.       Keluarga.
Intervensi yang palingpenting dilakukan oleh keluarga atau orang tua adalah memberikan pengalaman kepada anak dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga anak memiliki informasi yang banyak yang merupakan alat bagi anak untuk berpikir. Cara-cara yang digunakan misalnya memberi kesempatan kepada anak untuk merealisasikan ide-idenya, menghargai ide-ide tersebut, memuaskan dorongan ingin tahu anak dengan cara menyediakan bacaan, alat-alat keterampilan, dan alat-alat yang dapat mengembangkan daya kreativitas anak. Pemberian kesempatan atau pengalaman tersebut sudah barang tentu menuntut perhatian orang tua.
b. Sekolah.
Sekolah adalah lembaga formal yang diberi tanggung jawab untuk meningkatkan perkembangan anak termasuk perkembangan intelektual anak. Dalam konteks ini, guru hendaknya menyadari betul bahwa perkembangan kognitif anak terletak di tangannya. Beberapa cara yang dapat dilakukan guru di antaranya ialah:
1) Menciptakan interaksi atau hubungan yang akrab dengan peserta didik. Dengan hubungan yang akrab tersebut, secara psikologis peserta didik akan merasa aman sehingga segala masalah yang dialaminya secara bebas dapat dikonsultasikan dengan guru mereka.
2)  Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berdialog dengan orang-orang yang ahli dan berpengalaman dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
3)  Membawa para peserta didik ke obyek-obyek tertentu seperti obyek budaya, ilmu pengetahuan dan sejenisnyasangat menunjang perkembangan intelektual para peserta didik.
4) Menjaga dan meningkatkan pertumbuhan fisik anak, baik melalui kegiatan olahraga maupun menyediakan gizi yang cukup sangat penting bagi perkembangan intelek peserta didik. Sebab jika peserta didik terganggu secara fisik perkembangan kognitifnya akan terganggu juga.
5) Meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik, baik melalui media cetak maupun menyediakan situasi yang memungkinkan para peserta didik berpendapat atau mengemukakan ide-idenya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif subjek didik  adalah faktor heriditas (peranan lingkungan besar pengaruhnya terhadap perkembangan intelektual anak), faktor lingkungan yang meliputi dua unsur lingkungan yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.

2.6Perbedaan Individual dalam Perkembangan Kognitif
Secara heriditas individu telah memiliki potensi-potensi yang dapat menyebabkan perbedaan dalam perkembangan kognitif mereka. Potensi tersebut berkembang atau tidak, tergantung pada lingkungan. Ini berarti bahwa apakah anak akan menjadi memiliki kemampuan berpikir normal, di atas normal, atau di bawah normal juga banyak dipengaruhi oleh lingkungan.
Perbedaan individual dalam perkembangan kognitif menunjuk kepada perbedaan dalam kemampuan dan kecepatan belajar. Perbedaan-perbedaaan individual peserta didik akan tercermin dalam sifat-sifat atau ciri-ciri mereka baik dalam kemampuan, ketrampilan, maupun sikap dan kebiasaan belajar, kualitas proses dan hasil belajar, baik dalam ranah kognitif, efektif dan psikomotor. Perbedaan intelektual anak ini akan tampak sekali jika diamati dalam proses belajar-mengajar di dalam kelas. Ada peserta didik yang cepat, ada yang sedang, dan ada pula yang lambat dalam penguasaan materi pelajaran.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perbedaan individual dalam perkembangan kognitif menunjuk kepada perbedaan dalam kemampuan dan kecepatan belajar. Perbedaan-perbedaan individual akan tercermin dalam sifat-sifat atau ciri-ciri mereka. Perbedaan intelektual akan tampak sekali jika diamati dalam proses belajar mengajar di dalam kelas.

2.7 Proses Pembelajaran untuk Membantu Perkembangan Kognitif Subjek Didik
Ikhtiar pendidikan, khususnya melalui proses pembelajaran, guna mengembangkan kemampuan kognitif subjek didik adalah perlunya disadari betul oleh para pendidik bahwa kemampuan intelektual setiap peserta didik harus dipupuk dan dikembangkan agar potensi yang dimiliki setiap individu terwujud sesuai dengan keberbedaan masing-masing. Menurut Conny Semiawan (1984) penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif bagi pengembangan kemampuan intelektual anak yang di dalamnya menyangkut keamanan psikologis dan kebebasan psikologis merupakan faktor yang amat penting.
Kondisi psikologis yang perlu diciptakan agar subjek didik merasa aman secara psikologis sehingga mampu mengembangkan kemampuan kognitifnya adalah:
1)      Pendidik menerima subjek didik secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat (unconditional positive regard). Artinya, apapun adanya subjek didik dengan segala kekuatan dan kelemahannya harus diterima dengan baik serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya setiap subjek didik memiliki kemampuan kognitif yang dapat dikembangkan secara maksimal.
2)      Pendidik menciptakan suasana dimana subjek didik tidak merasa terlalu dinilai oleh orang lain. Terlalu memberikan penilaian terhadap subjek didik dapat dirasakan sebagai ancaman sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri. Memang kenyataannya pemberian penilaian tidak dapat dihindarkan dalam situasi sekolah, tetapi paling tidak harus diupayakan agar penilaian tidak bersifat mencemaskan bagi subjek didik melainkan menjadi sarana yang dapat mengembangkan sikap kompetitif secara sehat.
3)      Pendidik harus bisa berempati. Artinya, dapat memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku subjek didik, dapat menempatkan diri dalam situasi subjek didik serta melihat sesuatu dari sudut pandang mereka. Dalam suasana seperti ini, subjek didik akan merasa aman untuk mengembangkan dan mengemukakan pemikirannya atau ide-idenya.
4)      Penting bagi pendidik untuk mengetahui isi dan ciri-ciri dari setiap tahap perkembanagan kognitif peserta didiknya sehingga dapat mengambil keputusan tindakan edukatif yang tepat sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang memahami benar-benar pengalaman belajar yang diterimanya. Mencocokkan sistem pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik merupakan cara yang bagus untuk pengembangan intelektual peserta didik.
5)      Model pembelajaran yang aktif adalah tidak menunggu sampai peserta didik siap sendiri, tetapi guru menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa sehingga dapat memberi kemungkinan maksimal pada subjek didik untuk berinteraksi edukatif sehingga mendorong percepatan perkembangan kognitifnya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran untuk membantu perkembangan kognitif subjek didik merupakan ikhtiar pendidikan guna mengembangkan kemampuan kognitif subjek didik. Kemampuan intelektual setiap peserta didik harus dipupuk dan dikembangkan agar potensi yang dimiliki setiap individu terwujud sesuai dengan perbedaan masing-masing. Penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif bagi pengembangan kemampuan intelektual anak merupakan faktor yang amat penting.
 

BAB III
PENUTUP

3.1.Berdasarkan uraian mengenai perkembangan kognitif dapat disimpulkan   sebagai berikut:
Istilah intelek berasal dari Bahasa Inggris “intellect” yang berarti:
Proses kognitif, proses berpikir, daya menghubungkan, kemampuan menilai, dan kemampuan mempertimbangkan, kemampuan mental atau inteligensi.
Jean Piaget mendefinisikan “intellect” ialah akal budi berdasarkan aspek-aspek kognitifnya, khususnya proses-proses berpikir yang lebih tinggi. Sedangkan “intelligence” atau inteligensi menurut Piaget diartikan  sama dengan “kecerdasan” yaitu seluruh kemampuan berpikir dan bertindak secara adaptif termasuk kemampuan-kemampuan mental yang kompleks seperti berpikir, memahami, mempertimbangkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan menyelesaikan persoalan-persoalan.
Jean Piaget membagi perkembangan intelek/kognitif menjadi empat tahapan sebagai berikut:Tahap Sensori-Motoris (0-2 tahun). Pada tahap ini berada dalam suatu masa pertumbuhan yang ditandai oleh kecenderungan-kecenderungan sensori-motoris yang amat jelas segala perbuatan merupakan perwujudan dari proses pematangan aspek sensori-motoris tersebut, Tahap Praoperasional (2-7 tahun). Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperhatikan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif. Artinya, semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran, tetapi oleh unsur perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang bermakna, dan lingkungan sekitarnya, Tahap Operasional Konkrit (7-11 tahun). Pada tahap ini anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkrit dan sudah mulai berkembang rasa ingin tahunya. Interaksinya dengan lingkungan, termasuk dengan orang tuanya, sudah semakin berkembang dengan baik karena egosentrisnya sudah semakin berkurang. Anak sudah dapat mengamati, menimbang, mengevaluasi, dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dalam cara-cara yang lebih obyektif dan Tahap Operasional Formal (11 keatas). Pada tahap ini anak telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaaannya yang merupakan hasil dari berpikir logis, mampu berpikir abstrak, dan memecahkan persoalan-persoalan yang bersifat hipotetis.
Hubungan Kognitif dengan tingkah laku adalah bahwa inteligensi merupakan pernyataan dari tingkah laku adaptif yang terarah kepada kontak dengan lingkungan dan kepada penyusunan pemikiran (interactionism theory).
Proses interaksi individu sesuai dengan perkembangan kognitifnya dilakukan melalui “asimilasi” dan “akomodasi”. Dalam asimilasi proses yang terjadi adalah menyesuaikan pengalaman-pengalaman baru yang diperolehnya dengan struktur skema yang ada dalam diri individu. Akomodasi merupakan proses penyesuaian skema dalam diri individu dengan fakta-fakta baru yang diperoleh melalui  pengalaman dari lingkungannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif adalah:Faktor heriditas dan Faktor lingkungan, yang meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Upaya membantu perkembangan kognitif subjek didik adalah:Pendidik menerima subjek didik secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat (unconditional positive regard), Pendidik menciptakan suasana dimana subjek didik tidak merasa terlalu dinilai oleh orang lain, Pendidik mampu berempati, yakni dapat memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku subjek didik, dapat menempatkan diri dalam situasi subjek didik, serta melihat sesuatu dari sudut pandang mereka.
3.2. Saran
Ø  Saran untuk remaja :Dalam proses perkembangan intelektual seharusnya remaja lebih dahulu mengembangkan konsep-konsep yang ada dilingkungan sekitarnya sehingga dalam proses perkembangan intelektual remaja dapat memahami keadaan lingkungan sekitar dan remaja harus bisa menggunakan kemampuan secara tepat dalam proses pemahaman intelektual sehingga dapat menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutan baru sesuai dengan perkembangan zaman.
Ø  Saran untuk keluarga atau orang tua: Dalam proses perkembangan intelektual anak, orang tua tidak hanya mengamati secara indrawi saja, tetapi  juga pada intuisi anak dan keluarga atau orang tua seharusnya dapat memberikan pengalaman kepada anak dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga anak memiliki informasi yang banyak yang merupakan alat bagi anak untuk berpikir.
Ø  Saran untuk pendidik atau calon guru: Dalam mengembangkan kemampuan berpikir pendidik harus bisa mempersepsi dan belajar mengkoordinasi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh anak didik dan pendidik harus mengetahui isi dan cirri-ciri dari setiap tahap perkembangan kognitif peserta didiknya sehingga dapat mengambil keputusan tindakan edukatif yang tepat dan dapat menghasilkan peserta didik yang benar-benar pengalaman belajar yang diterimanya.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar